Perjuangan Ibu Menghidupi Buah Hatinya

Ilustrasi ibu dan anak.
Sumber :
  • U-Report

Untuk menghidupi dan menyekolahkan keempat anaknya, ibu memang harus bekerja keras. Setiap bulan ibu hanya memperoleh gaji sebesar delapan puluh ribu rupiah dari hasil kuli cuci. Itu pun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ibu tidak bisa berharap banyak kepada ayah, karena penghasilan ayah yang minim hanya sebagai tukang parkir saja.

Ibu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk selalu prihatin dalam hidup. Tidak peduli dengan keadaan yang getir pada saat itu, yang terpenting adalah anak-anaknya harus belajar dengan sungguh-sungguh hingga menjadi orang sukses. Harapan ibu kepada anak-anaknya adalah agar mereka dapat mengeyam pendidikan yang tinggi hingga menjadi sarjana. Namun ibu tidak bisa berbuat banyak, sebab faktor ekonomi yang selalu menyelimuti menjadi sekepal masalah pada sudut keluarga sederhana ini.

Karena keadaan ekonomi yang semakin mendesak, ibu mempunyai ide untuk berjualan warung nasi dan lontong sayur. Latar belakang pendidikannya yang cukup memprihatinkan, tak menjadi alasan bagi ibu untuk menyerah pada nasib. Untuk mendapatkan modal pertama, ibu meminjam uang dari saudara. Liku-liku yang ibu hadapi selama berjualan nasi sangat sulit. Banyak cemoohan dari orang-orang sekitar setiap pembeli meramaikan warung nasi ibu. Ibu hanya terdiam dan tersenyum saja dengan cemoohan mereka. ”Biarkan orang mau ngomong apa. Tidak usah dipikirin,” nasihat ibu sambil mengupas bawang merah di dapur.

Setiap hari ibu bangun lewat tengah malam, tepatnya pukul dua dini hari untuk menyiapkan masakan yang nantinya dijual. Rasa kantuk yang akut tidak menjadi hambatan bagi ibu untuk memulai aktivitasnya. Keringat bercucuran, telapak kaki terasa gatal dan nyeri hingga menyebabkan kutu air. Ibu hanya berkata, “Ya, mau bagaimana lagi, ini satu-satunya usaha ibu untuk menghidupi dan membiayai sekolah kalian sampai lulus,” jawab ibu sambil berjalan jinjit seolah-olah tak terasa menahan rasa sakitnya.

Azan subuh berkumandang, ibu bergegas untuk membuka warung dagangannya dibantu dengan ayah. Alhamdulillah, warung baru dibuka sudah ada pelanggan yang bergegas membeli nasi atau lontong sayurnya. Biasanya pelanggan membeli nasi uduk atau nasi ulam dan lontong sayur sebungkus seharga sembilan hingga sepuluh ribu rupiah, tergantung lauk yang dipesan.