Senyum Mama Segalanya Bagiku

Ibu dan anak.
Sumber :
  • U-Report

Namun, lambat laun mama berhenti menyalahkan papa atas keadaan ini. Mama selalu mendukung papa dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Mama berusaha mengikhlaskan apa yang telah terjadi, dan bersyukur dengan yang kami miliki sekarang. Bersyukur karena kedua kakakku bisa membantu membiayai kuliahku dan kehidupan keluarga kami.

Kemalangan kembali mendatangi mama. Pada awal tahun 2015, mama kehilangan sosok terdekatnya yaitu kakak perempuannya yang bernama Siti Aisyah. Tanteku ini meninggal karena mengidap penyakit kanker payudara. Sering ia menunggui tanteku di rumah sakit seusai kemoterapi. Namun takdir berkata lain, mama kembali bersedih ditinggal saudara terdekatnya. Kudengar tangis yang terisak-isak saat mama mendapat kabar melalui telepon tentang kematian tanteku.

Mama adalah perempuan tangguh yang selalu menjadi panutanku. Ia yang selalu menjaga dan merawatku sedari kecil. Ia juga sosok yang cerdas dan pantang menyerah dengan keadaan. Meski tidak sekolah, ia selalu membaca buku dan belajar secara otodidak hingga saat ini.

Ia adalah sosok yang sangat ingin aku bahagiakan. Aku ingin melihatnya tersenyum bangga saat hari kelulusanku nanti. Aku ingin belajar giat demi membahagiakannya. Doaku hanya satu, supaya mama selalu bahagia. Aku ingin senyum indahnya selalu terbingkai di wajahnya. “Terima kasih atas segala yang kau perjuangkan untukku, Ma.” (Tulisan ini dikirim oleh Astri Septiani, mahasiswa Universitas Nasional, Jakarta)