Senyum Mama Segalanya Bagiku
- U-Report
Masih teringat masa kecilku, saat mama berjualan cabai di tempatku bersekolah. Aku yang saat itu masih berada di bangku Taman Kanak-kanak seringkali ditinggal oleh mama yang bergegas pulang ke rumah karena stok cabai habis, namun masih ada ibu-ibu dari teman sekolahku yang ingin membeli cabainya. Dengan napas terengah-engah, mama berlari ke rumah dan segera kembali lagi ke sekolahku. Ia terburu-buru karena khawatir aku menangis saat menyadari ia tidak menunggu di depan kelas seperti biasa.
Mama selalu mengutamakan pendidikan anak-anaknya. Ia ingin aku dan kedua kakakku mendapat pendidikan yang lebih baik untuk bekal kehidupan kami kelak. Dengan jerih payahnya, dan juga papa yang mengumpulkan uang dari gaji seorang buruh yang tak seberapa, aku dan kakakku bisa mengenyam pendidikan sampai ke bangku perguruan tinggi.
Masih terukir jelas di benakku saat dulu mama mengantar kakakku saat wisuda. Butiran air mata menetes saat nama kakakku dipanggil untuk disahkan sebagai wisudawan. Kakakku termasuk pintar di bidang akademik, nilainya tidak pernah mengecewakan. Dan sejak di bangku kuliah, ia sudah membantu perekonomian keluarga dengan menjadi asisten laboratorium.
Setelah lulus, kedua kakakku langsung mendapat pekerjaan. Terlihat senyum bangga dari bibir seorang mama. Mama tidak pernah minta dibelikan sesuatu oleh kakakku. Kasih sayangnya terlalu tulus dan selalu terpancar di wajahnya yang bersahaja. Tak lama setelah kakakku yang nomor dua lulus kuliah, papa memutuskan pensiun dini dari pabrik tempatnya bekerja. Uang pesangon yang didapat papa dipergunakan untuk biaya sekolahku dan membetulkan rumah kami yang sudah agak rusak.
Baru sebentar merasakan kebahagiaan, keluarga kami kembali diberi cobaan oleh Allah. Papa ditipu ratusan juta rupiah oleh temannya sendiri. Niat untuk menambah uang dengan berinvestasi bersama temannya ini, ternyata papa malah ditipu. Sampai saat ini temannya tidak mengembalikan uang papa. Mamaku adalah orang pertama yang merasakan kesedihan yang mendalam. Ia sempat menyalahkan papaku karena terlalu mempercayai orang lain. Hal ini membuat hubungan papa dan mama menjadi tidak baik. Sering kudengar mama dan papa bertengkar tentang masalah ini.