Luka Bocah Kecil Sang Pengojek Payung
VIVA.co.id – Riuh angin kencang menggoyangkan dahan-dahan pohon. Riak hujan membanjiri tiap sisi jalan. Kala itu, jingga telah berpulang dan tergantikan awan hitam pekat. Hujan tak juga reda, padahal aku ingin segera pulang dan menikmati coklat panas di kamarku. Tapi apalah daya hujan ini tak kunjung juga berhenti.
Jam di tangan menunjukkan pukul 20.55. “Hujan seperti ini pasti lama berhentinya,” pikirku. Aku berjalan menuju pintu keluar dari pusat perbelanjaan kota Depok. Di lobi pintu keluar, aku berdecak kesal. Seharusnya hujan ini kalau mau turun nanti saja setelah aku sampai di rumah. Atau bisa saja tak usah ada hujan sekalian.
Beberapa menit berlalu aku memutuskan untuk beranjak dari sana dan berjalan dengan hujan yang masih lumayan deras. Setelah beberapa langkah meninggalkan pintu lobi, seorang anak kecil menghampiriku. “Payungnya, Ka.” Aku pun menoleh dan mengiyakan tawarannya.
Dia berjalan di belakang, mengikuti setiap langkahku. Tak sampai hati aku melihat dia bermandikan air hujan. Bajunya basah kuyup tak ada sehelai benang pun yang kering. Kedua tangannya ia lipat di dada, kepalanya menunduk. “Kamu sini dong!” kataku sambil menarik bahunya. “Rumahmu di mana?” Aku sengaja mengajaknya berbicara.
“Di Depok, Ka”. Jawabnya.
“Ayah ibumu tahu kamu di sini?” tanyaku lagi.
“Bapak sama ibu cerai. Bapak kawin lagi dan tidak pernah tahu aku di sini.” Jawabnya lagi.
Tuhan, rasanya aku ingin menangis saat itu juga. Perawakan anak itu kecil dan kurus. Sekolahnya baru kelas 3 SD. Bayangkan saja anak sepolos dan sekecil itu harus ikhlas dan tabah dengan apa yang ia harus jalani saat ini. Aku melirik kantong belanjaan yang aku beli saat tadi di pusat perbelanjaan tadi. Aku memang bukan terlahir dari keluarga kaya raya. Namun apa yang aku mau, aku bisa membelinya dengan uang jajanku.
Entah apa yang ia rasakan saat aku menanyakan tentang ayah ibunya. Tapi ia begitu polos dan jujur. “Terus kamu uangnya nanti buat apa?” Aku masih saja penasaran dengan hidupnya.