Sang Pahlawan bagi Keluarga

Ilustrasi ayah dan anak.
Sumber :
  • Pixabay/White77

VIVA.co.id – Pria kelahiran Kalimantan Barat, 29 Maret 1964 ini adalah seorang ayah bagi saya dan keluarga kecil yang telah dibangun dan dijaga olehnya. Ayah saya bernama Herman. Nama yang singkat, tetapi menjadi nama yang paling diagungkan dalam keluarga. Dia merupakan seorang ayah yang tak pernah kenal lelah dan putus asa. Selalu berjuang untuk menghidupi keluarganya.

Ayah saya bekerja di sebuah perusahaan angkutan darat. Dia bekerja di sana sekitar 31 tahun lamanya. Tempat ia bekerja sekarang yang merupakan satu-satunya penghasilan yang didapat untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Ayah memiliki silsilah keluarga yang berasal dari Sumatera Utara. Sehingga memiliki karakter yang keras dan disiplin. Ia menerapkan itu di dalam kehidupan keluarganya, yang membuat anak-anaknya memiliki karakter yang keras dan disiplin. Walaupun memiliki karakter yang keras, tetapi ia bisa mengondisikan dan mengontrol karakter keras tersebut.

Sejak kecil ayah tinggal di Jakarta, tepatnya di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di sana ia memiliki teman-teman yang juga berasal dari berbagai kota. Atau yang biasa disebut perantau. Walaupun memiliki teman-teman yang berasal dari luar kota dengan karakter berbeda, tapi ia mampu beradaptasi. Sehingga dapat berbaur dengan teman-temannya sampai saat ini.

Ayah saya adalah seorang pria yang tangguh, dan dia adalah seorang pahlawan bagi keluarga. Karena dia memiliki sifat pemimpin yang baik, selalu bertanggung jawab, dan memiliki komitmen untuk menjaga keluarga. Dia juga seorang pria yang tak pernah ingkar terhadap janji yang telah ia buat. Karena menurutnya, seorang pria adalah seseorang yang mampu bertanggung jawab, memiliki komitmen, dan tidak pernah mengenal apa itu menyerah dan putus asa.

Dia selalu berpesan hal itu kepada anak-anaknya. Agar kelak anak laki-lakinya memiliki jiwa pemimpin, mampu bertanggung jawab, dan memiliki rasa berjuang yang tinggi. Terutama ketika sudah menjadi seorang ayah seperti dirinya. Dia ingin anak laki-lakinya dapat menjadi seorang pria yang hebat. Bahkan, lebih hebat darinya. (Tulisan ini dikirim oleh Fidel Muhamad Isra, mahasiswa Universitas Pancasila, Jakarta)