Semalam Tanpa Azan di Pulau Kenawa
- U-Report
Kebetulan kami bertemu dengan bapak-bapak yang sedang santai di sebuah pos. Bertanya apakah ada yang bisa mengantarkan kami ke Kenawa. Ternyata salah satu dari tiga bapak-bapak tersebut adalah nelayan yang bersedia mengantarkan kami ke Kenawa, yang kemudian kami ketahui bernama Pak Cau. Setelah sedikit tawar-menawar, kami mendapat harga dua ratus ribu rupiah.
Sumbawa menunjukkan keramahannya. Bapak-bapak tersebut menyambut kami dengan hangat setelah tahu kami hanya berdua dari Malang. Bertukar cerita mengenai Pulau Kenawa yang sudah terkenal sampai ke Negeri Jiran. Sebelum ke pulau Kenawa kami terlebih dulu membeli makanan dan minuman untuk buka puasa sekalian sahur. Kami juga menyewa google glass, snorkel, dan pelampung di salah satu warung dekat dermaga dengan harga tiga puluh ribu rupiah.
Jajaran rumah penduduk di dekat dermaga Poto Tano sebagian berdinding tembok. Namun, sebagian besar masih beratap seng, berdinding kayu. Saya melihat beberapa anak bermain perahu-perahuan dari styrofoam besar di kubangan air kotor yang dibendung karena sampah rumah tangga. Senyum bahagia anak-anak kecil yang kontras dengan lalat berterbangan di antara tumpukan sampah, yang tentunya berpotensi menimbulkan penyakit.
Di satu sisi, saya mengagumi tempat tinggal mereka yang indah. Menjejakkan kaki di dermaga Kenawa, menghadap langsung palang selamat datangnya. Mengangkat tangan tinggi-tinggi dan berkata, “Sampai juga!”. Berkecamuk dalam pikiran, mendapati diri sendiri berdiri di pulau ini yang hanya sebatas angan di beberapa bulan yang lalu. Dan kini telah menjadi angan yang lunas. Terimakasih Allah, orangtua, dan Mbak Jule!
Melihat sekeliling yang sepi. Ternyata tak ada pengunjung lain selain kami! Padahal biasanya ada satu atau beberapa rombongan kalau hari biasa, berdasar informasi dari Pak Cau. Antara bahagia dan sedikit ngeri. Berasa menjadi pemilik pulau pribadi. Pulau Kenawa awalnya adalah pulau tak berpenghuni. Meski sudah tercantum secara resmi dalam kawasan bahari, namun masih dikelola oleh masyarakat, bukan Pemerintah.
Karena namanya yang kian tersohor dan semakin banyak pelancong yang mampir, ada penduduk yang kemudian membuat warung dan tinggal di sana. Namun karena bulan Ramadan, warung pun tutup, and we were completely alone. Sendiri, meski berdua di sebuah pulau nun jauh dari rumah tentunya akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Tak ada toilet, tak ada penyedia pangan, tak ada listrik, apalagi penerangan. Namun, Alhamdulillah, masih ada sinyal. Kami dibantu Pak Cau menurunkan barang bawaan. Beliau berpesan untuk tetap berdoa, dan berkata, “Inshaallah aman”.