Garda Bangsa dan Program Deradikalisasi

Ilustrasi.
Sumber :
  • VIVAnews/Fernando Randy

Untuk itulah, belajar agama tidak boleh berhenti. Banyak orang berhenti belajar agama karena merasa sudah merasa mumpuni. Banyak sekali orang yang berhenti belajar karena merasa sudah pandai. Padahal, salah satu ciri orang pandai adalah dia selalu merasa bodoh. Begitu dia berhenti belajar maka mulailah dia bodoh. Sekarang banyak orang yang berhenti belajar. Merasa sudah pandai, lalu menyalahkan orang lain. Semangat keberagamaan lebih hebat dari pengetahuannya tentang agama.

Selain pendidikan, kita juga perlu memperbaiki cara berdakwah. Dakwah artinya mengajak. Dakwah berbeda dangan amar makruf yang berarti perintah dan nahi mungkar yang artinya melarang. Tapi, ada orang yang mencampuradukan itu semua. Allah SWT sudah menggariskan bahwa dakwah itu harus dengan cara hikmah dan nasihat yang baik. Tidak boleh dengan cara melakukan kekerasan.

Bahkan, Nabi Muhammad SAW mengajarkan jika kita berdebat dengan orang lain harus dilakukan dengan cara yang lemah lembut. Tidak keras-kerasan. Jikalau lawan debat kita mengeluarkan kata-kata kotor, maka kita tidak boleh ikut mengeluarkan kata-kata kotor. Pakailah argumentasi yang lebih bagus. Barangkali, dalam konteks cara berdakwah kita perlu belajar dengan para calo di terminal.

Calo itu kalau ingin mendapatkan penumpang, maka dia akan merayu calon penumpang. Dia akan memuji bisnya sendiri. Tidak dengan cara menjelek-jelekan bis yang lain. Dalam berdakwah, kita juga harus meniru para calo. Kita sebagai umat Islam boleh untuk memuji agama kita. Namun, kita tidak boleh menjelek-jelekan agama yang lain. Sebab, jika kita menelek-jelekan agama orang lain berpotensi menimbulkan ketersinggungan yang bisa mengarah ke konflik. Jadi,  jangan sampai pendakwah kalah akhlaknya dengan para calo.

Garda Bangsa sebagai salah satu pilar kepemudaan Partai Kebangkitan Bangsa harus mampu menularkan ide-ide pencegahan radikalisme. Mulai dari sistem pendidikan yang menonjolkan akhlak, hingga menyebarkan pemahaman agama secara substansial. Tanpa adanya pendidikan yang mengarah pada akhlak, intoleransi dan radikalisme akan terus tumbuh.

Seseorang yang memiliki akhlak tidak akan bersikap intoleran dan radikal. Para pemuka agama di negeri ini, harusnya baru kita sematkan bertindak Islami jika akhlaknya benar-benar baik. Seseorang yang sangat paham agama maka akhlaknya akan semakin bagus. Lihat saja, banyak contoh pemuka agama di negeri ini yang benar-benar paham agama. Mereka sama sekali tidak suka berkonflik.