Bhinneka Tunggal Ika yang Sebenarnya
VIVA.co.id – Senin (30/01) dini hari, Bere (keponakan, bahasa Batak) Natania Anne Arle boru Tambunan wafat di usia 11 bulan. Dia keponakan kandung yang sangat saya kasihi. Walau kami jarang bertemu, hanya sering melihat fotonya melalui kiriman WA. Terakhir kami bertemu saat hari kedua Natal, 26 Desember 2016 dan saya sempat menggendong dan menciuminya penuh cinta.
Sore hari, Natania dimakamkan di TPU Kampung Kandang, Jakarta Selatan. Air mata sempat jatuh berderai saat takziah karena sedih melihat tubuh kaku Natania yang saya kasihi. Juga teringat almarhumah ananda Matahari Hadya Tamba, anak ketiga yang telah lebih dahulu wafat pada medio Mei 2016 lalu (lahir sebulan sebelum Natania). Saya terus berdoa dalam hati sepanjang pemakaman, agar almarhumah Bere Natania yang polos tak berdosa mendapat tempat terbaik di sisi Gusti Allah. Selamat jalan, istirahatlah dengan tenang, Bere-ku Natania.
Setelah pemakaman jelang malam hari, saya mengantarkan orang tua kembali ke rumah kediaman masa kecil saya di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, bersama adik dan pariban (anak dari tulang, paman dari pihak ibu, bahasa Batak). Kami sempat bernostalgia masa lalu, meng-update info keluarga besar yang kini makin membaur beraneka ragam suku dan agama, serta tinggal di berbagai tempat yang terpisah jarak dan waktu.
Saya miris melihat fenomena konflik sosial yang kini banyak terjadi di Indonesia. Terlebih pasca maraknya berbagai protes dan demonstrasi terkait kasus penistaan agama Islam. Buat saya, Bhinneka Tunggal Ika telah final dan mengikat.
Karena saya adalah seorang mualaf Islam sejak 2002 yang lahir dari papi purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan mami seorang penginjil denominasi Gereja Kristen Protestan terbesar di Indonesia, yang mengajari saya tentang Alkitab setiap hari saat kecil. Merekalah yang menghargai dan tak mengusik pilihan saya memeluk keyakinan sebagai Muslim. Berbeda-beda tapi tetap satu keluarga yang saling menyayangi.
Bahkan, saat saya kerap berdemonstrasi menentang berbagai ketidakadilan di era Orba hingga kini, orang tua menghargai pilihan politik saya. Walau selalu berpesan untuk selalu hati-hati menjaga diri. Jadi, jangan berdebat tentang ke-Bhinneka Tunggal Ika-an dengan saya.