Youth Employment dan Digital Workers

Ilustrasi konten digital.
Sumber :
  • Viva.co.id/Amal Nur Ngazis

VIVA.co.id – Era konseptual menjadikan manusia sangat bergantung pada dunia digital. Ketergantungan kita terhadap internet, cloud, hingga software yang sangat membantu tugas kita menjadi semakin tinggi. Pada era ini, industri kreatif menjadi jawaban bagi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, dalam mengembangkan perekonomiannya. –Indra Utoyo –

Dalam buku Silicon Valley Mindset, disebutkan bahwa setiap generasi memiliki era-nya masing-masing. Pada abad 18, manusia berada di era pertanian. Semua negara menggantungkan perekonomiannya pada sektor ini. Tenaga manusia dan hewan menjadi motor penggerak laju perekonomain dan peradaban manusia.

Memasuki abad 19, situasi berubah secara drastis. Berbagai penemuan dan inovasi melahirkan era industri. Mesin uap, pembangkit listrik, rel kereta api telah membawa produktivitas perekonomian melaju dengan kencang seiring kehadiran teknologi.

Seratus tahun berlalu, era informasi pun hadir pada abad ke-20. Era ini dikenal dengan era komputer, era digital,  atau era informasi. Aktivitas perekonomian yang pada mulanya digerakkan oleh industri digantikan oleh komputer. Manusia bisa mendapatkan layanan yang sesuai dengan kebutuhannya atau personalisasi. Jenis-jenis profesi seperti akuntan, insinyur, pengacara, dokter, dll mengandalkan cara berpikir dan keterampilan yang kita kenal dengan istilah knowledge worker.

Situasi pun berubah sebagaimana kita rasakan saat ini. Peradaban dunia dan manusia telah berubah menuju era konseptual yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi, globalisasi, dan kemakmuran. Di era konseptual ini, ekonomi tidak lagi ditopang oleh sektor energi, modal dan tenaga kerja. Tetapi ekonomi bergerak karena ide, konsep, kreativitas dan inovasi.

Era konseptual ini mengandalkan empat pilar utama yaitu CAMS, yang merupakan singkatan dari Cloud, Analytics, Mobility, dan Social media. Era konseptual ini disebut juga era ekonomi kreatif, yaitu era yang dijiwai oleh cara berpikir dengan konsep tinggi (high think), teknologi tinggi (high tech), namun menyentuh hati (high touch).

Dalam labor intensive, seperti perusahaan manufaktur di era industri. Tenaga kerja dalam jumlah yang sangat banyak amat dibutuhkan agar sebuah pabrik bisa beroperasi sehingga dapat melahirkan produk yang laku di pasar. Begitu pula pada era tenaga kerja ahli. Pada periode itu, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan memang tidak sebanyak era sebelumnya, namun tetap dibutuhkan untuk menjamin operasionalisasi dari kantor-kantor pekerja.

Lain halnya dengan era knowledge creative. Ide brilian dari satu orang bisa saja menggerakkan industri kreatif pada saat itu juga. Makin banyak orang yang melahirkan ide brilian, semakin banyak industri kreatif yang terlahir. Dan tentu saja hal ini akan memberikan dampak terhadap perekonomian sebuah negara.

Pemuda mempunyai fungsi dan peran yang strategis dalam pembangunan dan pembaharuan bangsa. Dalam proses pembangunan bangsa, pemuda merupakan kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam pembangunan nasional. Menurut Undang-undang RI No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, menyebutkan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang berusia 16-30 tahun.

Berdasarkan hasil Susenas Tahun 2015, dari sekitar 254,9 juta jiwa penduduk Indonesia, sekitar 61,68 juta jiwa (24,20 persen) di antaranya adalah pemuda. Pemuda lebih banyak yang tinggal di perkotaan daripada di pedesaan. Di antara penduduk yang tinggal di perkotaan, sebesar 25,50 persennya adalah pemuda. Sedangkan di pedesaan sebesar 23,21 persennya adalah pemuda. Persentase pemuda tertinggi berada pada kelompok umur 26−30 tahun (34,11 persen). Sebaliknya, persentase pemuda terendah berada pada kelompok umur 16-20 tahun (32,38 persen).

Berdasarkan data Sakernas Agustus 2015, pemuda yang terlibat dalam kegiatan ekonomi cukup tinggi dengan nilai TPAK sebesar 60,38 persen. Artinya, dari lima orang pemuda, tiga di antaranya bekerja, mempersiapkan pekerjaan, atau mencari pekerjaan. Dan dua pemuda lainnya sedang sekolah, mengurus rumah tangga, atau kegiatan lainnya. Persentase pemuda bekerja yang tamat sekolah menengah (SMA/sederajat) sebesar 39,44 persen, sekolah menengah pertama (SMP/sederajat) sebesar 23,52 persen, dan sekolah dasar (SD/sederajat) sebesar 18,38 persen. Sedangkan persentase pemuda bekerja yang berpendidikan tinggi hanya sebesar 12,71 persen.

Secara umum, komposisi jenis pekerjaan pemuda didominasi oleh mereka yang bekerja sebagai tenaga usaha dan jasa (49,28 persen) serta tenaga operator dan pekerja kasar (40,05 persen). Hanya 10,67 persen pekerja pemuda yang berprofesi sebagai profesional, kepemimpinan dan tata usaha. Hampir seluruh pemuda yang bekerja sebagai profesional, kepemimpinan dan tata usaha merupakan lulusan perguruan tinggi dan SMA/sederajat, yaitu masing-masing sebesar 63,99 persen dan 32,23 persen.

Pada jenis pekerjaan tenaga usaha dan jasa, pemuda lulusan SMA/sederajat lebih dominan dengan persentase sebesar 40,95 persen. Diikuti oleh lulusan SMP/sederajat (22,65 persen) dan SD/sederajat (18,55 persen). Adapun pada jenis pekerjaan tenaga operator dan pekerja kasar, didominasi oleh lulusan SMA/sederajat (39,45 persen) dan SMP/sederajat (30,24 persen).

Selama dua  puluh tahun terakhir, Indonesia telah menikmati manfaat demografis seiring pertumbuhan populasi usia kerja yang lebih cepat daripada kenaikan populasi anak-anak dan lanjut usia. Hal ini merupakan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Seiring dengan diciptakan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih baik untuk mempekerjakan angkatan kerja yang akan bertambah kira-kira 20 juta orang dalam sepuluh tahun berikutnya.

Namun begitu, peluang demografis ini akan tertutup dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan. Karena pertumbuhan populasi lanjut usia mulai melampaui pertumbuhan angkatan kerja, sehingga menambah beban terhadap jaminan penghasilan para pekerja. Inilah sebabnya mengapa sepuluh tahun ke depan adalah masa yang kritis bagi Indonesia untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dan memanfaatkan sebaik-baiknya peluang ini.

Masa depan Indonesia tergantung dari bagaimana kita mampu memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Hal ini menjadi tolak ukur utamanya. Apapun yang dilakukan, harusnya diukur dari sudut pandang itu. Teknologi dan inovasi mempunyai peran yang dominan dalam hal ini.

Berdasarkan survei asosiasi, pengguna internet Indonesia terus bertambah setiap tahun. Berdasarkan hasil survei internet APJII 2016, pengguna internet Indonesia saat ini mencapai 132,7 juta pengguna. Angka ini naik cukup tinggi dibandingkan dengan hasil survei pada tahun 2014. Yang menunjukkan jumlah pengguna internet Indonesia hanya mencapai 88 juta pengguna.

Angka 132,7 juta pengguna tersebut berarti melewati 50 persen dari jumlah populasi atau penduduk Indonesia, tepatnya penetrasinya sebesar 51,8 persen. Meski demikian, penetrasi internet tersebut mayoritas masih berada di Pulau Jawa. Dari survei yang dipresentasikan oleh APJII itu tercatat bahwa sekitar 86,3 juta orang atau 65 persen dari angkat total pengguna internet tahun ini berada di Pulau Jawa.

Seiring dengan perubahan digitalisasi yang terjadi, dunia startup digital akan menjadi dunia yang baru, masa depan dari Indonesia. Ketergantungan kita terhadap duniai internet beserta perangkatnya semakin terlihat dari waktu ke waktu. Jika semula penggunaan digitalisasi hanya sebuah gengsi dan aksi, kini telah berubah menjadi kebutuhan.

Visi pemerintah menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia pada tahun 2020, harus dikampanyekan dan dijadikan arus utama pembangunan. Termasuk di dalamnya program penciptaan 1.000 technopreneur digital yang perlu didukung semua pihak. Hal inilah yang akan menciptakan kesejahteraan dan kemajuan Indonesia di masa yang akan datang. (Tulisan ini dikirim oleh Billy Ariez, Jakarta)