Belajar Bersyukur dari Seorang Tunanetra

Jajang, seorang tunanetra yang selalu bersyukur.
Sumber :

Saat ini, dia masih bisa menghidupi keluarganya bahkan bisa menyekolahkan putra putrinya. Dalam keterbatasannya, dia tegas terhadap anak-anaknya termasuk mengenai jalan hidup yang mesti ditempuh anak-anaknya.

“Anak-anak bapak jangan kaya bapak. Mereka harus lebih baik. Mereka tak boleh membantu bapak jualan. Paling, boleh antar jemput saja. Mereka harus sekolah setinggi mungkin untuk mengubah nasib keluarga. Karena sekarang, lulusan SD dan SMP itu sudah tidak ada artinya lagi,” tutur Jajang.

Jajang menjadi sumber inspirasi luar biasa. Nurul, salah satu karyawan Rumah Yatim yang juga anak asuh Rumah Yatim ini merasa termotivasi dengan kehidupan Jajang yang luar biasa. Sosoknya bersahaja, mengajarkan kita hakikat syukur dan perjuangan.

Karena itu, pada kesempatan tersebut, Nurul yang didampingi Firman, yang juga karyawan Rumah Yatim memberikan santunan sembako kepada Jajang. Dalam kesempatan itu pun, tak lupa Jajang bersyukur dan mengucapkan terima kasih. “Alhamdulillah, semoga Allah membalas 700 kali lipat,” tutupnya. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)