Ketika DPR Mengutuk AS dan Inggris

Dubes AS Ralph Boyce, Dubes Inggris dan Ketua Komisi I Ibrahim Ambong pada 2003
Sumber :
  • Dok. Pribadi

    1.    Komisi I DPR-RI mengutuk keras penyerangan secara brutal yang dilakukan Amerika Serikat dan Inggris atas Afganistan. Atas dalih apapun penyerangan tersebut melawan secara diametral prinsip-prinsip hubungan internasional dan nilai-nilai kemanusiaan universal. 
    2.    Mendesak segera dilakukannya penghentian total atas serangan tersebut tanpa syarat. Sebab, cara-cara penyelesaian dengan kekerasan dengan skala masif tersebut benar-benar melecehkan seruan dunia internasional selama ini, bahwa cara-cara kekerasan secara masif semacam itu hendaknya dihindarkan.
    3.    Mendesak Pemerintah Republik  Indonesia untuk mengutuk penyerangan tersebut dan melakukan langkah-langkah diplomatik untuk mendesak Amerika Serikat menghentikan tindakan sepihak yang mengakibatkan korban-korban yang tidak berdosa.
    4.    Menyerukan kepada seluruh rakyat  Indonesia agar tidak bertindak emosional dalam menyikapi peristiwa ini dan tetap bersikap nuchter (tepat, akutat) dan proporsional.
    5.    Mendesak Pemerintah agar meminta PBB mengambil alih kepemimpinan dalam upaya bersama bangsa-bangsa di dunia memerangi terorisme Internasional. 
Demikian pernyataan sikap Komisi I DPR-RI.

Sebelumnya, pada masa Ketua Komisi I dipimpin Yasril Ananta Baharudin (Golkar), kritik terhadap politik luar negeri AS sudah dilakukan. 

Setelah penyerangan gedung kembar World Trade Centre di New York yang dilakukan kelompok garis keras Al Qaeda, maka perlawanan terhadap teroris dilakukan AS oleh Presiden George W. Bush.  Dan eksesnya menyasar ke Indonesia.

Duta Besar AS, Robert S. Gelbard yang bertugas di Jakarta 1999-2001, mengeluhkan aksi-aksi demonsterasi anti AS. Dia menyatakan keamanan warganegara AS tidak terjamin dengan aksi-aksi masyarakat. Oleh karena itu dia mendatangi Komisi I untuk menyampaikan keluhannya. Namun, karena penyampaiannya dilakukan dengan provokatif, sehingga menimbulkan antipati anggota Komisi I. Kritik keras terutama disampaikan oleh Yasril Ananta Baharuddin, Permadi (PDIP), Ahmad Sumargono (PBB), dan Abdul Qadir Jaelani (PDU).
 
Duta Besar Gelbard tidak lama di Jakarta. Dia digantikan oleh Ralph L. Boyce. Mungkin oleh pemerintah AS,  Gelbard dianggap kurang diplomatis.

Untuk memperbaiki citra AS dan Inggris didekatilah Komisi I. Duta Besar Inggris, Richard Gozney,  menemui saya, sebagai Ketua Komisi I, untuk menyampaikan keinginannya bersama Duta Besar AS berdialog dengan Komisi I. Kami lalu bersepakat untuk bertemu pada hari Jum’at, 7 February 2003.

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.