Ironis, 3 Media Cetak Berhenti Terbit Justru Jelang HPN 2021

Suara Pembaruan (foto FB Primus Dorimulu)
Sumber :
  • vstory

VIVA - Menjelang peringatan Hari Pers Nasional 2021 pada 9 Februari mendatang di DKI Jakarta, ironisnya ada 3 sekaligus koran harian nasional berhenti terbit.

Saat memasuki awal tahun 2021, koran harian "Suara Pembaruan" berhenti terbit, menyusul jejak "Koran Tempo" dan "Indo Pos" yang sebelumnya juga menyetop peredarannya.

Media cetak khususnya surat kabar harian (koran), pelan tapi pasti mengalami keterpurukan. Awal tahun 2021 ini misalnya, kembali kita kehilangan satu media cetak lagi: "Suara Pembaruan", karena berhenti terbit.

Setelah "Koran Tempo" (Majalah Tempo Grup) dan "Indo Pos" (eks Jawa Pos Grup) berhenti terbit, kini giliran pihak "Suara Pembaruan" menyatakan tidak datang lagi mengunjungi pembaca setianya. 

Dengan demikian, sudah ada 3 media cetak yang stop edar di tahun 2021. Justeru di saat para insan pers tengah mempersiapkan hajatan besarnya di Jakarta: HPN 2021. Tahun sebelumnya di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

SP Edisi Terakhir

Seperti diketahui, terhitung sejak hari Jumat, 29 Januari 2021 lalu, secara resmi pihak SP -- singkatan populer Suara Pembaruan -- mengumumkan sebagai edisi terakhir koran SP tersebut. 

Artinya, esok harinya, Sabtu 30 Januari 2021 koran SP tidak lagi mengunjungi pembacanya. Bukan hanya pembaca, tapi rekan sesama awak media, juga terkejut. 

Wartawan SP sendiri mengirim salam perpisahan melalui medsos. Seperti dikutip di bawah ini :

Teman-teman baik. Aku mau memberitahukan, mulai 1 Februari 2021, Koran Harian Suara Pembaruan akan berhenti cetak. Dikarenakan bangkrut dan tidak mampu lagi melawan keganasan pandemi Covid-19. 

Terima kasih atas kerjasama dan bantuan teman-teman selama ini. Terima kasih untuk kenangan - kenangan manis selama liputan di lapangan bersama kalian.

Mudah-mudahan kita bisa ketemu di lapangan ya dengan semangat yang baru lagi.

I am gonna miss all of you..

Salam hangat..

Apa sebenarnya yang terjadi dengan "Suara Pembaruan"?

Ini jawaban dari Primus Dorimulu, Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings, masih satu grup dengan SP.

"Ke depan, tidak ada lagi koran yang sudah berusia 34 tahun itu (SP), baik dalam bentuk cetak maupun e-paper. Namun, kami akan tetap hadir memenuhi kebutuhan pembaca akan informasi yang sehat lewat platform digital dan audiovisual," tulis Primus Dorimulu di akun FB-nya.

Penutupan "Suara Pembaruan," kata Primus, merupakan bagian dari ikhtiar untuk terus hadir memberikan kontribusi kepada bangsa dan kemanusiaan.  

"Sejak media cetak terkena disrupsi, kami mulai berkonsentrasi pada pengembangan media online dan televisi. Sejak 2012, para jurnalis HU "Suara Pembaruan" mengelola Beritasatu.com, mempersiapkan sebuah langkah peralihan dari cetak ke digital," tambah Primus.

Diakuinya, era 4.0 yang ditandai internet of things (IoTs) atau serba internet, memaksa berbagai jenis bisnis untuk shifting untuk mengembangkan usaha berbasis digital. 

Koran cetak "Suara Pembaruan" boleh mati, namun jurnalismenya tetap hidup di platform berita yang sesuai perkembangan teknologi dan perilaku masyarakat. 

Selama 34 tahun, bahkan 60 tahun jika dihitung sejak "Sinar Harapan", harian ini melahirkan banyak jurnalis hebat. Mereka tidak saja bekerja di HU "Suara Pembaruan" dan sejumlah media di bawah bendera Beritasatu Media Holdings, melainkan di berbagai media massa di Indonesia (Nur Terbit).

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.