Cuaca Buruk, Karimunjawa Kehabisan BBM dan Elpiji

Kapal wisata tak berlayar gara-gara cuaca buruk dan hanya bersandar di Pelabuhan Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, pada Selasa, 28 November 2017.
Sumber :
  • VIVA/Dwi Royanto

VIVA – Pasokan bahan bakar minyak di Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, nyaris habis sejak sepekan terakhir. Hal itu dikarenakan cuaca buruk yang melanda perairan Jepara hingga membuat aktivitas pelayaran berhenti total.

Gara-gara HTI Pertamina Rugi Rp11 Triliun, Cek Faktanya

PT Pertamina MOR IV Jateng-DIY bahkan hanya bisa pasrah dengan habisnya BBM di kawasan wisata Karimunjawa. Meski telah menyiapkan BBM untuk memasok kelangkaan BBM di Karimunjawa, namun izin berlayar kapal yang membawa BBM hingga kini belum keluar. 

"Kami terakhir suplai (kirim BBM) ke Karimunjawa tanggal 3 Januari 2018. Kirim 75 kilo liter. Normalnya untuk (stok) 7 sampai 10 hari," kata  General Manager Pertamina MOR IV Jateng-DIY, Yanuar Budi Hartanto, Rabu 31 Januari 2018. 

Kisah Dokter Nova saat Ahok Hampir Meninggal di Penjara

Menurut Yanuar, terhambatnya pengiriman BBM dan elpiji ke Karimunjawa memang murni karena faktor cuaca buruk. Namun kika sudah diizinkan berlayar, muatan BBM akan ditambah sesuai dengan kebutuhan riil di Karimunjawa. 

Saat ini lanjut Yanuar, pasokan BBM untuk mengatasi kehabisan BBM di Karimunjawa terpaksa tertahan di pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Di mana Syahbandar setempat belum mengeluarkan izin berlayar. 

Besok, Bos Pertamina Bongkar Kisah Nyata Ahok di Penjara

"Kalau pengiriman elpiji terakhir yaitu 20 Januari dari Jepara. Waktu itu kita kirim kirim 2.240 (tabung). Berikutnya ada larangan (pengiriman akibat cuaca), " katanya.

Masyarakat Kesulitan

Sejumlah SPBU di wilayah Karimunjawa kini telah kehabisan stok BBM. Kondisi itu membuat aktivitas transportasi warga dengan jumlah 10.000 orang itu kesulitan. 

Kepala Seksi Data dan Infromasi, BMKG Stasiun Klimatologi Semarang, Iis Widya Harmoko, menyebut, ketinggian gelombang di perairan laut Jawa terpantau antara 1,5 sampai 2,5 meter. Menurut Iis, kondisi cuaca ekstrem itu akibat perbedaan tekanan di Utara dan Selatan ekuator. Hal itu berpengaruh pada tinggi gelombang di laut Jawa.

Selain berimbas pada aktivitas pelayaran, para nelayan di wilayah itu kini juga tak melaut dengan tinggi gelombang tinggi. "Kalau soal izin berlayar yang memberikan Syahbadar. Kami hanya memberikan update peringatan cuaca secara rutin. Setiap 24 jam sekali kita berikan warning, " katanya. (ren)
 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya