Aksi Hacker Surabaya Tak Jago dan Biasa Saja

Tiga orang tersangka jaringan hacker internasional ditangkap Polda Metro Jaya
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Reno Esnir

VIVA – Polda Metro Jaya berhasil membekuk komplotan peretas atau hacker Surabaya yang membobol ratusan situs dalam dan luar negeri di 44 negara. Peretas membobol sistem dan situs korbannya dengan menggunakan metode SQL Injection.

img_title Jangan Percaya Ada yang Ngaku-ngaku Perekrut BUMN atau Tech Titan di LinkedIn

Mampu membobol ratusan situs dan menarik perhatian Biro Penyelidik Federal (FBI), aksi hacker Surabaya itu menurut pakar forensik digital, Ruby Alamsyah, hal yang biasa saja. Aksi mereka belum bisa dikatakan istimewa. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Soal bisa menjebol sistem di negara lain, itu karena mereka random korbannya. Di dunia ini kan ada miliaran website, situs .com bisa di mana-mana," kata Ruby kepada VIVA, Jumat 16 Maret 2018. 

img_title AI Sekarang bisa Meretas dalam 31 Detik Tanpa Bantuan Manusia

Menurut dia, belum tentu dengan menjebol situs di luar negeri, seorang hacker disebut sebagai aksi yang jago. Sebab melihat aksi hacker Surabaya, mereka beroperasi secara acak. 

"Dia jago meretas di luar, itu karena random dan belum tentu yang dibobol instansi penting," katanya. 

img_title Masih Ingat Gary McKinnon? Hacker yang Pernah Menghebohkan Pentagon dan NASA Kini Jadi Produser Musik

Dia menduga, hacker Surabaya itu meretas sistem atau website yang memiliki kelemahan SQL Injection. Aksinya dilakukan secara acak tanpa melihat negara lokasi target mereka. 

"Ada miliaran website di dunia ini, dan enggak seluruh admin (sistem dan website) di negara maju itu aware terhadap hal ini (kelemahan SQL Injection)," ujarnya menambahkan.

Polda Metro Jaya rilis kasus hacker mahasiswa Surabaya

Soal terlibatnya FBI dalam perburuan hacker Surabaya ini, menurut Ruby, adalah hal yang lumrah dalam kerja sama antarpenegak hukum di dunia. Sudah berkali-kali polisi Indonesia membantu FBI dan sebaliknya. 

"Itu murni laporan korban warga negara AS, kalau urusan sesama penegak hukum ya turun. Mereka (FBI) minta lapor ke Polri saja," katanya. 

Dilihat dari korban serangan hacker Surabaya, Ruby mengatakan, juga belum membuat aksi hacker Surabaya merupakan aksi yang canggih. Sebab korbannya, rata-rata adalah perusahaan biasa. 

"Belum sesuatu yang istimewa, kecuali itu ada korban instansi AS dibobol,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ilustrasi hacker.

Sebelumnya, peretas asal Surabaya diciduk tim Subdit IV Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya di Surabaya. Beberapa peretas yang diciduk inisialnya, yakni KPS dan NA. Mereka yang berasal dari kelompok SBH, sudah membobol website dalam dan luar negeri.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut