Gusti Kanjeng Ratu Hemas

Dari Tembok Kraton ke Senayan

VIVAnews - Tak ada yang tampak istimewa dari rumah bernomor 37 di Jalan Suwiryo, Menteng, Jakarta Pusat, ini jika dibandingkan dengan rumah-rumah di sebelahnya. Kayu mendominasi rumah, mulai dari pagar. Arsitekturnya terlihat dipengaruhi suasana 1980-an, tak banyak ornamen.

Seorang pria bersafari warna gelap terlihat mengelap sedan Mercedes Benz hitam yang diparkir di luar pagar. Dia menoleh. "Silakan masuk," katanya sambil tersenyum. Dia lalu membukakan pintu pagar rumah yang terbuat dari kayu yang kokoh.

Masuk ke dalam, pintu rumah ternyata sudah terbuka. Perabotan rumah juga didominasi kayu berukir. Terlihat foto sebuah keluarga besar sejajar dengan pintu. Seorang ibu separuh baya lalu muncul dari arah belakang rumah. Dialah sang empu rumah: Gusti Kanjeng Ratu Hemas, seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ratu Hemas menyilakan duduk. Meski mengaku tak berdandan khusus untuk diwawancara, isteri Sri Sultan Hamengku Buwono X ini terlihat anggun. Kemeja bermotif garis-garis dan celana panjang hitam terlihat serasi untuk perempuan berkacamata yang baru saja menginjak usia 56 tahun pada 31 Oktober 2008 lalu. "Silakan, mau wawancara apa saja," kata ibu dari lima anak perempuan itu dengan ramah saat ditemui Arfi Bambani Amri, Nenden Novianti, A Rizalludin (videografer) dan Tri Saputro (fotografer) dari VIVAnews, Senin, 24 November 2008, lalu.



Ratu Hemas dilahirkan pasangan suami-isteri Soepono Digdosastropranoto dan Susamtilah Soepono di Jakarta. Hemas dibesarkan dengan nama Tatiek Dradjad Supriastuti. "Saya dari keluarga biasa. Bapak saya ABRI, kemudian ibu saya ibu rumah tangga. Bapak dari Kota Yogya, ibu saya dari Wates, Kulonprogo," kata Ratu.

Tatiek dan orang tuanya tinggal di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Anak ketiga dan satu-satunya perempuan dari 7 bersaudara ini menghabiskan sekolah dasar sampai sekolah menengah atas di Jakarta. Setiap tahun, Tatiek berliburan bersama orang tuanya ke Yogyakarta, menjenguk kakeknya yang rumahnya berdempetan dengan tembok Kraton Yogyakarta di Soronatan.

Saat mengunjungi kakeknya yang bekas abdi dalem Kraton itulah Tatiek bertemu Herjuno Darpito, putera tertua Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang saat itu berkuasa. Herjuno Darpito ini yang kemudian hari ditabalkan menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X. "Ceritanya sudah cukup lama. Tapi ketemunya itu gang rumah kakek saya itu kan mepet tembok Kraton di Soronatan. Jadi ketemunya di gang itu. Pak Sultan ketemunya di situ," kata Ratu Hemas tersenyum mengenang kisah sekitar tahun 1970 itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title IHSG Ambruk 0,83% ke 6.020,70 di Sesi I, Deretan Saham Ini Jadi Beban Indeks
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut