Lapas Blitar Bingung Tempatkan Tahanan

SURABAYA POST - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Blitar, kondisinya jauh berbeda dibanding Rutan Pondok Bambu, Jakarta, pasca temuan Satgas Antimafia Hukum terkait fasilitas mewah Artalyta Suryani alias Ayin. Lapas saatnya direlokasi, tiap tahunnya juga sering over load (kelebihan daya tampung).

Cegah Informasi Simpang Siur, Jemaah Haji Diimbau Tak Bagikan Kabar Tidak Benar di Media Sosial

Kalapas Kelas II Blitar, B Muhammad Hosnan, SH, MH melalui Kasi Bindik dan Binker, Andik Ariawan, mengatakan, keberadaan lapas yang dibangun 12 Januari 1962 itu bahkan perlu direlokasi karena tempatnya di tengah kota. “Apalagi tiap tahun Lapas sering kelebihan tahanan,” katanya.

Karena kondisinya yang tidak memungkinkan, jelas Andik, Lapas di Jl. Merapi itu sudah selayaknya mendapat perhatian. “Kalau perlu bahan kami berharap Satgas Antimafia Hukum datang ke Blitar, sehingga kami bisa menunjukkan kondisinya. Kami di sini, hampir tiap tahun kebingungan menempatkan tahanan,” terang dia, Jumat, (15/1).

Usulan Kejaksaan Izinkan Lima Smelter Perusahaan Timah Tetap Beroperasi Disorot

Lapas Kelas II B ini, jelasnya, terbagi tiga blok. Setiap blok berbeda kasusnya dan tidak boleh dicampur. Blok A terdapat 20 napi yang tergolong kasus berat, blok B terdapat 41 napi perempuan, dan blok C terdapat 321 napi yang tergolong kasus ringan. Tiga blok tersebut terisi sebanyak 382 narapidana dari berbagai kasus.

“Idealnya, tiga blok tersebut maksimal bisa diisi 201 narapidana. Kendala yang kemudian muncul, utamanya adalah masalah kesehatan para napi. Penyebabnya, fasilitas mandi cuci kakus (MCK) sering tidak terawat. Apalagi kesadaran napi terhadap kebersihan juga kurang,” katanya.

Mahfud MD Blak-blakan Soal Langkah Politik Berikutnya Usai Pilpres 2024

Untuk mengatasi itu, setiap bulan Lapas mendatangkan alat kebersihan MCK dan ini menjadikan beban pengeluaran tersendiri. Tiga blok dengan 35 kamar, telah tersedia poliklinik dan dokter gigi.

“Fasilitas kesehatan lainnya, Lapas menyediakan sarana pemeriksaan secara gratis. Anggarannya Jamkesmas. Jika napi membutuhkan perawatan lanjutan, beban biaya ditanggung oleh keluarga,” terangnya.

Penyakit napi, tutur Andik, bermacam-macam seperti kulit (gatal-gatal), diare, dan juga asma. Namun yang paling sering adalah penyakit gatal yang disebabkan oleh kondisi air kotor akibat minimnya fasislitas sanitasi air bersih. “Karena itu, napi sering terkena gatal-gatal,” katanya.

Ditanya dugaan adanya pungli atau jual beli kamar? Lapas yang memiliki 76 petugas (sipir) ini dirasa tidak memungkinkan lagi.

“Umumnya, sipir di Lapas Indonesia , 1 : 4. Tapi di sini 1 : 9 narapidana. Penghuninya terbanyak kasus perjudian (303),” pungkas bapak dua anak ini.

Tri Iwan Widhianto

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya