Perang Dagang AS-China dan Peluang Investasi

Pergerakan IHSG (Foto ilustrasi)
Sumber :
  • VIVAnews/M Ali Wafa

"Indikator-indikator di atas cukup vital memengaruhi PDB AS di semester pertama 2020 yang merupakan periode krusial kampanye pemilu," tuturnya. 

img_title IHSG Dibuka Menguat saat Bursa Asia Lesu Imbas Perang Dagang AS-China

Jajak pendapat terakhir mengindikasikan penurunan kepuasan masyarakat terhadap pemerintah terutama di bidang ekonomi, bidang yang selama ini dianggap sebagai keunggulan Presiden Trump. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia mengatakan, data terkini menunjukkan 58 persen masyarakat AS memandang eskalasi konflik dagang dengan China merupakan kebijakan yang buruk bagi AS. Kondisi ini dapat ‘menekan’ pemerintah untuk lebih melunak dalam negosiasi dengan China dan membuka kemungkinan adanya persetujuan sementara.

img_title Bursa Asia Goyang Meski Trump Coba Tenangkan China soal Tarif

Rapat FOMC bulan September lalu menghasilkan dua kubu pendapat mengenai arah kebijakan suku bunga. Sebagian pejabat The Fed memandang pemangkasan suku bunga masih perlu dilanjutkan, dan sebagian lagi justru berpendapat untuk tidak lagi memotong suku bunga. 

Terhadap situasi itu, Manulife Investment Management memperkirakan masih ada pemangkasan suku bunga Fed 50 basis poin dalam enam bulan ke depan, dan kemungkinan peluncuran stimulus lebih lanjut. Kebijakan moneter akan digunakan untuk mengimbangi efek negatif resesi manufaktur global, risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi dari kebijakan moneter ketat 2018 dan ‘guncangan’ yang ditimbulkan oleh konflik dagang. 

img_title IHSG Ditutup Ambrol 30 Poin Tapi 3 Saham Ini Tetap Gagah di Top Gainers

"Kami memperkirakan bahwa sebagian besar bank sentral global akan mempertahankan suku bunga rendah dan menghindari kenaikan suku bunga setidaknya selama dua tahun ke depan, sebagai usaha untuk mendorong inflasi menuju atau bahkan lebih tinggi dari target yang ditentukan," kata dia. 

Penurunan Suku Bunga
Terkait pengaruhnya terhadap Indonesia, sepanjang 2019, Bank Indonesia sudah menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali, total 0,75 persen. Ke depannya, menurut dia, kebijakan moneter masih akan tetap akomodatif. 

"Kebijakan moneter akomodatif ini dapat menjadi ‘bantalan’ bagi ekonomi Indonesia di tengah perlambatan ekonomi global," ujarnya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ruang pemangkasan suku bunga lebih lanjut terlihat dari suku bunga riil Indonesia yang masih kompetitif jika dibandingkan dengan negara kawasan Asia yang memiliki defisit neraca berjalan, seperti India dan Filipina. 

Inflasi, defisit pada neraca berjalan dan prospek pertumbuhan ekonomi akan menjadi faktor pertimbangan penting dalam pemangkasan suku bunga lebih lanjut.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut