Logo DW

Benarkah Iran Manfaatkan Pandemi Corona untuk Program Nuklir?

picture-alliance/abaca/SalamPix
picture-alliance/abaca/SalamPix
Sumber :
  • dw

"Pada prinsipnya, alat pemisah yang bekerja lebih cepat tidak bertentangan dengan penggunaan sipil, tetap mereka melanggar perjanjian nuklir internasional,” kata Bayat.

Ancaman ‘rahasia’ nuklir Iran

JCPOA berjanji memberikan keringanan sanksi sebagai imbalan jika Iran membatasi pengayaan uraniumnya ke tingkat yang lebih rendah. Keringanan sanksi juga akan diberikan jika Iran mengizinkan inspeksi internasional untuk memverifikasi bahwa Iran benar-benar tidak mengembangkan senjata nuklir.

Ditandatangani pada tahun 2015 oleh Jerman dan lima kekuatan permanen di Dewan Keamanan PBB, JCPOA ini dimaksudkan untuk memastikan Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir di masa mendatang. Sebagai gantinya, kelonggaran sanksi akan diberikan untuk membuka jalan bagi Iran kembali ke ekonomi global.

Namun, satu tahun setelah AS secara sepihak mengakhiri perjanjian di tahun 2018, dan mengembalikan sanksi ekonomi terhadap Iran dan mitra dagangnya, Iran mengumumkan bahwa mereka akan menarik diri sebagian dari perjanjian tersebut. Dengan absennya manfaat ekonomi yang dijanjikan di tahun 2015, Iran pun memberikan tekanan bagi negara-negara penandatangan lainnya.

“Program nuklir Iran dirancang sebagai pencegah. Rezim sekarang tidak memiliki cara untuk melawan pelanggaran AS terhadap kewajiban dalam kesepakatan,” kata Bayat. Menurut fisikawan itu, percepatan program melalui modernisasi fasilitas sentrifugasi dapat dilihat sebagai “ancaman terselubung untuk mengejar pengembangan bom atom”.

Centrifuge atau alat pemisah yang lebih cepat akan membuat proses pengayaan uranium Iran lebih efektif, dan waktu yang dibutuhkan ntuk menghasilkan senjata uranium pun menjadi lebih singkat.