Mengingat Sejarah di Waterloo Plein

VIVAnews – Setiap pagi, sebagian warga Kota Jakarta datang ke Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Mereka ke sana untuk berbagai macam kegiatan.

Sepanjang hari, tua dan muda juga wanita dan pria, datang untuk olah raga jalan kaki, senam, atau latihan  bela diri di tempat itu. Tapi banyak juga yang hanya sekedar bersantai dan berekreasi.

Tempatnya sungguh asyik dan lega. Soalnya, masih banyak sekali pohon rindang tumbuh di taman yang pada zaman Belanda diberi nama Waterloo Plein.

Selain untuk berolah raga, taman yang dekat dengan Hotel Borobudur ini, biasanya juga digunakan untuk tempat pameran. Mulai dari pameran flora dan fauna, lukisan atau pameran.

Ada juga tempat memamerkan rupa-rupa tanaman dan rempah-rempah. Acara ini, biasanya sangat digemari warga.

Mereka yang datang ke sana sebagian besar pakai kendaraan. Kalau lagi ada pameran besar, mobil-mobil dan sepeda motor yang parkir, sampai mengganggu kelancaran lalu lintas menuju ke Senen dan Jalan Pejambon. Ini terjadi karena tempat parkir terbatas sehingga kendaraan sampai meluber ke jalanan.

Unik juga yang selalu disuguhkan pengelola taman kepada warga kota di Taman Lapangan Banteng. Misalnya sering ada penyelenggaraan lomba satwa, temu wicara, sampai sarasehan. Yang semuanya selalu menarik perhatian.

Diskusi soal Taman Lapangan Banteng, pastinya akan bertanya soal sejarahnya. Menurut data Pemerintah DKI Jakarta, dulu, ketika orang Belanda menamainya Waterloo Plein, orang Jakarta tidak demikian. Orang Jakarta menganggap tempat ini sebagai taman Lapangan Singa. Soalnya, ada patung berwujud singa yang berdiri di sana.

Seiring dengan perkembangan politik di nusantara, pada waktu pemerintah membebaskan Irian Barat, dibangunlah Monumen Pembebasan Irian Barat. Sejak itulah, nama Lapangan Singa ini jadi Lapangan Banteng.

Ketika Jakarta makin maju. Perekonomian semakin berkembang. Tata kota berubah terus. Pada sekitar 1980-an, taman ini pun difungsikan sebagai terminal bus untuk rute dalam dan luar kota. Tentu saja waktu itu situasinya sangat semrawut.

Karena semrawut sehingga menggerus eksistensi taman. Untungnya ada pemimpin daerah yang sadar soal itu. Maka pada 1993 fungsi Lapangan Banteng dikembalikan lagi sebagai ruang terbuka hijau kota.

Nah, kalau membaca sejarah singkat taman ini, sudah seharusnya generasi muda tetap melestarikannya.

Taman seluas 4,5 hektar ini selain sangat bersejarah juga sekaligus menjadi paru-paru Ibukota Jakarta untuk mengimbangi lingkungan yang semakin panas ini.