Awas! Daging Sapi Impor Picu Kanker

Daging Sapi
Daging Sapi
Sumber :
  • doc Corbis

VIVAnews - Penggemar daging mulai saat ini tampaknya harus berpikir ulang sebelum mengonsumsi daging impor. Penelitian yang dilakukan drh Kirman Achmad Rasyid, daging dan hati sapi impor ternyata mengandung residu hormon trembolon (hormon untuk memacu pertumbuhan sapi).

Jika dikonsumsi secara terus menerus, residu hormon bisa ini bisa menimbulkan kanker dan gangguan reproduksi.

“Dari 60 sampel daging dan hati sapi impor dan sapi bakalan eks impor yang diambil  di pelabuhan Tanjung Priok yang digemukkan selama 2-5 bulan di feedlotter Bogor dan Sukabumi terdeteksi seratus persen mengandung hormon trenbolon. Hati dan dagingnya kita temukan adanya residu. Hampir rata-rata seratus persen,” kata Drh. Kisman Achmad Rasyid, MM dalam ujian promosi untuk memperoleh gelar doktor di Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Senin, 2 Agustus 2010
 
Menurutnya meski jumlah residu masih dibawah ambang batas aturan internasional Standar Codex, yakni 2 ppb untuk daging sapi dan 10 ppb untuk hati sapi, namun bila dikonsumsi secara terus menerus bisa menimbulkan kanker rahim dan payudara pada perempuan serta menimbulkan kanker prostat pada laki-laki.
 
Karena itu, pemerintah dianjurkan mengevaluasi dan memperketat persyaratan daging dan hati sapi impor karena berbahaya bagi masyarakat yang mengkonsumsinya.
 
Sebetulnya, lanjut Kisman, peredaran dan penggunaan residu trenbolon asetat khusus di Indonesia tidak diizinkan. Karena hormon diklasifikasikan dalam golongan obat keras. Hal itu merunut dari surat edaran direktur kesehatan manusia no 329/X-C  tahun 1983 dan keputusan menteri pertanian nomor 806 tahun 1994 dan hasil rapat komisis obat hewan Indonesia 12 Agustus 1998.
 
“Masih lolosnya daging dan hati sapi impor di pasaran karena lemahnya pengawasan dari pemerintah,” tegasnya.
 
Kisman menyarankan peredaran daging dan hati sapi impor dari  Australia perlu diperketat dengan sejumlah syarat bahwa penggunaan hormon tidak dibolehkan di Indonesia. Disamping itu, dilakukan pengawasan dan pengujian residu hormon secara berkala sebagai kontrol untuk mengetahui kebenaran persyaratan telah dipenuhi.
 
“Saatnya kita mengawasi impor hati dan daging sapi dari luar ini, dengan mensyaratkan kandungan bahan residu trenbolon ini bisa nol persen. Selama ini belum diperhatikan,” ujar Rasyid yang lulus doktor ke-1249 dari UGM ini.

Laporan: KDW | Yogyakarta