Indonesia Sudah Sejajar dengan BRIC

Philip Kotler
Philip Kotler
Sumber :
  • Istimewa

VIVAnews – Pakar marketing dunia, Philip Kotler,  menganggap Indonesia sudah sejajar dengan kelompok negara kekuatan ekonomi baru, BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China). Dengan pertumbuhan ekonomi yang terus melaju, menurut diq, BRIC seharusnya ditambah dengan huruf I (Indonesia) menjadi BRICI.
 
Disamping sektor industri, salah satu kekuatan ekonomi Indonesia terletak pada sektor pariwisata dengan ikon-nya, Bali.  Kotler menilai industri pariwisata Indonesia perlu mempropagandakan keunggulan wisata kepada masyarakat di belahan negara lain. Indonesia harus bisa menciptakan sebuah slogan menarik dan berkesan yang mampu menggambarkan keelokan alam di tanah air.
 
Sebagian pengamatan dan usulan Philip Kotler ini disampaikan dalam sebuah wawancara khusus VIVAnews.com di Hotel Four Season, Ubud, Bali beberapa hari lalu. Kotler kali ini datang ke Indonesia dengan maksud meresmikan Museum Marketing 3.0 yang merupakan museum pemasaran pertama dan satu-satunya dunia.

Berikut petikan wawancara Philip Kotler dengan VIVAnews.com:
 
Apa tanggapan Anda mengenai Bali?
 
Bali telah berhasil mengelola pelayanan kualitas khusus dan budaya khusus lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan pelancong. Wisata Bali telah memuaskan wisatawan dengan menyajikan keunggulan apa adanya.
 
Bali telah memiliki kapasitas untuk mengelola pariwisata dan wisatawannya. Mereka harus bisa memastikan bahwa Bali memiliki akomodasi dan hotel yang cukup bagi para turis. Satu hal yang menjadi masalah adalah kemacetan karena Bali tidak bisa menambah ruas jalan lagi.
 
Mungkin, Bali harus memutuskan tipe wisata seperti apa yang diinginkan wisatawan. Perbedaaan utama dari kegiatan wisata dunia terletak pada wisatawan berkelas dan wisatawan biasa-biasa saja.
 
Wisatawan berkelas adalah mereka yang datang dengan uang cukup banyak, fasilitas terbaik, dan tinggal dalam kurun waktu lama. Ini adalah tipe turis terbaik. Sedangkan wisatawan biasa adalah mereka yang datang untuk 1-2 hari saja dan hanya ingin melihat-lihat.
 
Jika saya menjadi pengelola Bali, saya akan sangat hati-hati memutuskan hal ini. Sudah pasti saya akan mengincar wisatawan yang memang serius ingin tinggal di sini, menghabiskan uang dan mempelajari budaya yang dilihatnya.
 
Menurut Anda, wisatawan seperti apa yang cocok untuk Bali?

Saya menduga, wisatawan Australia yang datang ke Bali ingin menikmati  kehidupan malam dan pantai. Mereka adalah tipe wisatawan yang ingin  menghabiskan waktu bermain golf, pantai, dan senang-senang.  Ada juga tipe wisatawan yang datang untuk menikmati budaya seperti melihat museum  atau wisata etnographi.

Mungkin saja ada wisatawan yang datang ke Bali dan mempertimbangkan Bali  sebagai rumah kedua atau ketiga bagi mereka. Saat ini juga ada sekitar 4-5 tipe wisatawan. Kami biasa menyebutkan  tiga segment wisata.
 
Bali selama ini tidak pernah membatasi turis untuk datang, tapi Bali perlu membuat pendekatan lebih banyak.
 
Contohnya, mungkin Bali harus lebih banyak menyasar turis dari Jerman atau  Perancis. Jika hanya mengandalkan turis yang datang untuk melihat-lihat  saja, mungkin Bali harus menggelar promosi untuk mencampur asal wisatawan  yang disasar.
 
Saya baru mengetahui, ketika banyak turis Jerman yang datang, mereka akan  memberitahu warga Jerman lain dan akhirnya Bali akan memperoleh banyak  wisatawan Jerman.
 
Namun jika tidak melakukan seperti hal itu, Bali hanya bisa mendatangkan  bermacam-macam wisawatan dan itu pertumbuhannya lambat. 

Karena Bali banyak memiliki budaya menarik, Anda harus mencari tahu negara  mana yang sangat perduli dengan budaya-budaya yang menarik. Sebagai contoh,  turis Jerman dan Skandinavia terkenal suka berjalan-jalan ke berbagai  bagian negara lain untuk mempelajari kebudayaan baru.

Anda tidak akan banyak mendatangkan wisatawan asal Amerika Selatan  untuk belajar mengenai kebudayaan. Mereka biasanya datang untuk hal lain.
 
Artinya Indonesia harus membuat target turis?

Betul, jadi Anda harus banyak menggelar promosi, juga meneliti untuk  mengetahui seberapa besar mereka tertarik dengan wisata budaya, berapa  banyak uang yang akan mereka habiskan, dan berapa lama mereka akan tinggal  di sini.
 
Jika seseorang tertarik dengan Bali, kemana lagi mereka mempertimbangkan untuk berwisata? Apakah mereka akan memikirkan pergi ke Hawaii, Fiji, atau  Thailand? Mungkin Anda bisa belajar dari pesaing-pesaing yang ada.
 
Bagaimana tanggapan Anda dengan pariwisata dari negara-negara itu?

Halaman Selanjutnya
img_title