Boediono: Teluk Lamong Harus Terintegrasi dengan Jalur Kereta Api

Teluk Lamong
Teluk Lamong
Sumber :
  • VIVAnews/Tudji Martudji (Surabaya)

VIVAnews - Wakil Presiden RI, Boediono, Sabtu 26 April 2014, menyatakan pengoperasian arus barang dari dan ke Terminal Teluk Lamong di Jawa Timur harus dapat terintegrasi dengan jalur kereta api.

Ini penting demi mengurangi beban jalan raya, apalagi jalur ganda kereta api Jakarta-Surabaya pembangunannya hampir tuntas.

Hal ini disampaikan Boediono sebagai tanggapan atas paparan Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III, Djarwo Surjanto, mengenai perkembangan proyek pembangunan Terminal Teluk Lamong. Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono.

"Diharapkan akses barang dari terminal Pelabuhan Teluk Lamong ini tidak hanya lewat jalan raya, tetapi juga kereta api," ujar Boediono di Teluk Lamong, Jawa Timur.

Bambang menambahkan, salah satu yang menjadi fokus pemerintah adalah upaya memindahkan beban jalan kepada jalur kereta api.

"Dengan selesainya jalur ganda Jakarta-Surabaya, tentu arus pergerakan barang akan semakin meningkat," kata Bambang.

Oleh karena itu, Pelindo III dimintai penjelasan mengenai rencana perpindahan barang yang sinergis antar moda dengan jalur kereta api yang sudah ada.

Antara lain seperti di Kandangan, yang kemungkinan jadi titik pertemuan jalur dry port kereta api untuk untuk langsung masuk ke Terminal Teluk Lamong.

Menanggapi permintaan itu, Djarwo Surjanto menjelaskan, dalam rencana Pelindo III sebenarnya sudah menyiapkan jalur rel ACT (automatic container transport) dari Teluk  Lamong ke stasiun kereta api di Kandangan.

"Jalur ini sepanjang 4,5 kilometer sudah ada dalam rencana untuk mengangkut dengan moda kereta api," kata Djarwo.

Sedangkan untuk jalur rel ACT dari Teluk Lamong ke Tanjung Perak, untuk perpindahan peti kemas dari terminal lama ke terminal baru, sedang diproses perizinan proyek pembangunannya.

Pelindo III diminta memastikan jangka waktu kesiapan sinergi dengan moda transportasi kereta api.

"Karena kemarin kami cek, kereta api ini ternyata juga sudah siap. Jadi akan sangat bagus jika bisa kerja sama sejak awal kemudian ditargetkan kapan bisa dimulai," kata Boediono.

Pelondo III menyatakan segera menindaklanjuti. "Baik, kami akan segera tindak lanjuti. Kalau perlu untuk tahun bisa langsung mulai," kata Djarwo.

Pembangunan Terminal Teluk Lamong termasuk dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) khususnya di koridor Jawa.

Dengan pembangunan dan pengoperasian Terminal Teluk Lamong, diharapkan dapat mengurangi waktu tunggu kapal (dwelling time) di Pelabuhan Tanjung Perak selaku pintu gerbang perekonomian Jawa Timur dan Kawasan Timur Indonesia.

Kelebihan Kapasitas

Evaluasi Pelindo III menunjukan bahwa Pelabuhan Tanjung Perak  telah mengalami kelebihan kapasitas (over capacity).

Pada tahun 2013, arus peti kemas di  pelabuhan terbesar kedua di Indonesia ini telah mencapai 2,9 juta TEU's, padahal kapasitasnya hanya sekitar 2,1 juta TEU's. Diprediksi pada tahun 2014 arus peti kemas ini meningkat lagi hingga mencapai 3 juta TEU's.

Terminal Teluk Lamong dijadwalkan dapat dioperasikan secara penuh pada triwulan ketiga 2014 dengan, luas area 386 hektar untuk fungsi pelayanan peti kemas dan curah kering.

Investasi yang dikeluarkan Pelindo III untuk pembangunan Terminal Teluk Lamong tahap pertama mencapai Rp3,4 triliun yang berasal dari kas internal perusahaan dan pinjaman perbankan.

Sebelumnya, Boediono menyatakan bahwa jalur ganda kereta api Jakarta-Surabaya pembangunannya hampir tuntas. Selengkapnya, baca: Boediono: Dalam Waktu Dekat Jakarta-Surabaya Terhubung Rel Ganda.

(ren)