Mulai Ayah Hingga Kedua Anaknya Jadi Tentara

VIVAnews - Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Mungkin pepatah ini yang bisa menggambarkan kalau profesi yang dijalani sang ayah menurun pada dirinya. Bahkan kini dua putranya juga mengikuti jejak sang kakek dan sang ayah sebagai parjurit TNI.

Dia adalah orang nomor satu di jajaran Komando Daerah Militer IX/Udayana, Mayor Jenderal TNI Hotmangaradja Panjaitan. Sebagai putra ke 4 dari 6 bersaudara, suami dari Katarina Dwi Astuti ini mengaku sangat mengagumi ayahnya yang juga seorang pahlawan revolusi, Mayor Jenderal Anumerta Donald Isaac Panjaitan.

Sang ayah gugur saat usia Hotmangaradja masih 13 tahun. Meskipun masih terbilang kecil, namun dia cukup berkesan saat diajak bertugas ayahnya ke Jerman menjadi atase pertahanan militer.

Dibesarkan dan lingkungan yang berbau militer, mau tak mau jiwanya pun tumbuh dalam aroma keprajuritan. Meskipun secara langsung tidak dituntut masuk ke Akabri, dirinya merasa terpanggil untuk meneruskan kepemimpinan sang ayah.

Namun perjalanan masuk ke militer tak semulus yang dibayangkan. Sang ibu, Marike Tambunan sempat melarang supaya jangan ikut-ikutan jejak sang ayah yang gugur. "Memang saat itu sempat ada rasa khawatir, apalagi di keluarga hanya ada dua anak laki-laki dan semua ingin masuk militer. Namun setelah berunding diputuskan saya yang meneruskan jejak ayah," tegasnya saat ditemui VIVAnews.

Hal itu terpaksa dilakukan lantaran sang ibu hanya memberikan restu untuk satu anak saja. "Kata ibu saya, anak laki-laki hanya dua jadi kalau satu orang diserahkan ke negara (gugur) maka masih ada satu orang yang tersisa," kenang bapak dua anak ini.

Di usia yang masih belia juga, Hotmangaradja menyaksikan bagaimana saat itu peristiwa 1 Oktober 1965. Secara psikologis, dia mengaku masih belum menerima ayahnya yang dikenal sebagai figur seorang ayah yang baik, rajin beribadah harus dihilangkan nyawanya secara paksa. "Detail peristiwanya saya memang tidak ingat dan kini sudah bisa menerima dengan berusaha untuk melupakan," ungkap perwira tinggi bintang dua ini.

Namun dia membantah kalau obsesinya terjun ke dunia militer adalah untuk membalas dendam peristiwa di masa lalu. "Sama sekali tak pernah terlintas bahwa apa yang saya lakukan saat ini untuk membalas dendam bahkan rasa benci. Agama yang melarang saya meskipun untuk itu (balas dendam) setiap kesempatan ada dan hal itu tidak saya lakukan," urainya lagi.

Sebagai orang perantau dari Tapanuli Utara, Hotmangaradja melihat sosok ayahnya sebagai orang yang sukses dengan intelektual dan kemauan belajar tinggi.

Untuk karir yang kini dijalani dua putranya, dia mengaku tak pernah memaksa harus masuk militer. "Dua anak saya laki-laki sempat masuk kuliah, itu artinya kalau mereka tidak mau didikte sama saya. Tapi begitu semester dua, coba daftar di akabri dan ternyata lulus sampai sekarang," paparnya.

Anak pertamanya, Abraham kini berdinas di Kopassus sementara putra keduanya masih pendidikan infanteri. 

Laporan: Wima Saraswati | Bali