Dari Laboratorium Gubuk ke Laboratorium Kampus (Bagian II)

Tong untuk fermentasi jagung dengan sistem anaerob
Tong untuk fermentasi jagung dengan sistem anaerob
Sumber :

VIVAnews - Geliat warga di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur memproduksi bioethanol tak lepas dari peran Didik Prasetyo. Dia menerapkan sistem plasma untuk "petani" bioethanol di wilayah Kabupaten Malang.

Didik sudah getol melakukan percobaan membuat bioethanol sejak 2002. Proses itu, ia lakukan bersama lima kawannya di Kelompok Tani Giri Makmur, Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Dari berbagai uji coba, pada 2012, pemegang gelar Sarjana Hukum ini, akhirnya bisa membuat bioethanol dengan kadar 99 persen. Pun, dia bisa hasilkan bioethanol food grade, alias aman dikonsumsi dengan kadar 70 persen.

Dia menyebut, semua bioethanol karyanya sudah diujicobakan di laboratorium sejumlah perguruan tinggi. Di antaranya, Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang, dan di laboratorium energi Institut Teknologi Surabaya (ITS).

Bahan bakunya beragam, mulai dari singkong, tebu, atau jagung. Tergantung produk pertanian yang sedang melimpah di sekitarnya.

"Pernah didemokan proses pembuatan sekaligus dicek hasilnya atas permintaan mereka," kata Didik, kepada VIVAnews, belum lama ini.

"Bioethanol saya, yang 99 persen sudah bisa menggantikan premium. Bahkan, bisa langsung digunakan untuk bahan bakar pesawat saat dicek oleh seorang kawan di Lufthansa (maskapai asal Jerman). Untuk Sumawethanol, 70 persen juga sudah foodgrade dan aman dikonsumsi untuk obat," kata dia.

Bioethanol kadar 99 persen bisa dihasilkan dari proses destilasi di kebun plasmanya sendiri. Caranya, sedikit berbeda dengan destilasi di kebun petani lainnya.

Bioethanol disuling dua kali dengan tenaga pemanas listrik untuk meningkatkan oktan. "Hasilnya, dari 100 liter air rendaman fermentasi jagung, bisa didapat 14 liter bioethanol 99 persen," katanya.

Baca juga: Laboratorium Gubuk Penghasil Energi Alternatif (I)

(asp)