Awalnya Temuan Saya Diledek
- Prof Khoirul Anwar
Kenapa?
Karena, ilmuwan tidak akan memakai teknik yang dipatenkan. Termasuk saya nggak mau pakai teknologi yang sudah dipatenkan.
![]()
Indonesia sedang hangat soal alokasi frekuensi untuk 4G. Banyak yang ingin di 1800 Mhz. Tanggapan Anda?
Menurut saya, frekuensi itu sudah di luar. Ibarat manusia, frekuensi itu bajunya. Dalamnya tak terpengaruh baju. Jadi, sistem ini di frekuensi berapa pun tak masalah. Setelah keluar dari antena baru digunakan frekuensi berapa bisa 700, 900 atau 1800 dan lainnya.
Bagaimana temuan Anda pada prinsip efisiensi daya?
Jadi, efisiensi itu karena saya bisa mengatur kayak gini. Kalau di dalam wi-max, dan TV digital hanya memakai satu (FFT) saja. Kita nggak bisa kendalikan ini. Tapi, di 4G kita bisa kendalikan, dengan adanya FFT di depan.
Apa yang harus dikembangkan dalam teknologi 4G?
Riset kita untuk point to point itu sudah selesai. Problem di dunia untuk point to point sudah selesai. Dan saya berharap teknologi ini adalah yang terakhir. Mungkin yang paling efisien saat ini.
Awalnya teknik FFT untuk satelit dan TV digital?
Karena konsep awal nggak kepikiran untuk teknologi 4G. Saat itu saya pikirkan problem saat itu apa. Saya beberkan solusi. Problemnya adalah nonlinear. Kalau kita punya suatu sinyal nonlinear, itu akan terpotong. Di luar angkasa itu butuh power yang luar biasa karena hanya mengandalkan solar cell. Maka saya harus bikin sistem yang cepat dan bagus. Maka saya propose FFT dan langsung dipakai untuk satelit Jepang.
Selain itu, apa saja manfaat temuan Anda?
Saya kira Wi-Fi kalau mau berubah bisa pakai FFT. Sekarang kan pakai satu FFT. Kalau misalkan ada standar Wi-Fi masa depan bisa pakai teknik ini, maka akan lebih efisien dan lebih cepat.
Â
Karena?
Pertama, dari efisiensi power-nya lebih bagus, karena nggak ada problem Peak to Average Power Ratio (PAPR). Sekarang kan masih ada, karena hanya satu FFT.
Â
Bagaimana pemanfaatan 4G di Jepang?
Di Jepang 40,8 persen (sudah LTE pelanggannya), itu yang Docomo saja. Yang lainnya saya kira juga segitu. Saya nggak tahu apakah dia itu LTE pakai dua FFT atau tidak. Tapi, seharusnya kalau dia pakai brand LTE pasti pakai punya saya. 4G tanpa LTE itu beda, kalau 4G saja itu kan mengacu pada standarnya saja, kecepatan sampai 100 Mbps.
Â
Apa yang Anda rasakan setelah menemukan teknik ini?
Saya bangga. Tapi, saya berprinsip kita jangan arogan. Jadi, kalau bangga, ya bangga saja. Nggak usah sok, terus sombong.
Â
Mengapa?
Karena ilmu itu berkembang. Bisa jadi suatu saat itu ilmu yang saya temukan salah. Bisa jadi berapa tahun lagi ada teknologi yang lebih baik dari ini. Saya sih seneng, tapi biasa saja. Seneng, tapi tak sampai euforia. Bagi saya kebenaran ilmu itu tidak mutlak, tapi relatif.
Â
Ada rencana untuk pulang ke Tanah Air?
Ya, suatu saat saya ingin pulang dengan networking yang banyak ke Indonesia, bikin pusat riset untuk telekomunikasi. Dari situ lahir riset masa depan termasuk dengan kolega saya di luar negeri. Saya ingin bikin di Indonesia. Misalkan ada universitas mengundang, saya support dengan teknologi terkini. Itu bayangan saya. Saat ini masih belajar cari teman sebanyak-banyaknya. Mungkin dua puluh tahun lagi... hahaha. (art)