Furnitur RI Diminati Taiwan

Pameran Interior Furniture Indonesia 2012
Sumber :
  • VIVAnews/Fernando Randy

VIVA.co.id - Produk furnitur Indonesia makin berkibar di Taiwan. Prestasi gemilang ini berkat perusahaan Scanteak yang mampu mencetak transaksi rata-rata 1.000 kontainer setahun.

Kementerian ESDM Perpanjang Izin Ekspor Freeport?

Perusahaan yang berbasis di Singapura itu memiliki 120 chain store di dunia, 94 di antaranya di Taiwan. Sisanya tersebar di Singapura, Jepang, Jerman, Kanada, Brunei, dan Amerika Serikat.

"Perusahaan-perusahaan furnitur Indonesia berbasis di Solo dan sekitarnya menjadi pemasok utama Scanteak. Ini membanggakan kita semua," ujar Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) Taiwan, Arief Fadillah pada pembukaan gedung baru Scanteak di Taiwan, seperti dikutip dari laman Kemendag, Selasa, 11 Agustus 2015.

Bahas Produksi Lada, Enam Negara Duduk Bareng

Sejak kali pertama membuka toko di Taiwan pada tahun 1993, Scanteak kini telah memiliki turn over rata-rata per tahun lebih dari USD 5 juta.

Arief menuturkan, pembukaan gedung baru Scanteak di Taiwan ini berfungsi sebagai pengatur sistem distribusi logistik perusahaan ini. Ke depan, Scanteak bertekad akan membuka toko furniturnya hingga 100 unit di Taiwan.

Arief berharap, perusahaan-perusahaan furnitur Indonesia tidak cepat bertepuk dada.

Strategi Mendag Atasi Calo Daging Sapi

"Mereka perlu mempertahankan kualitas furnitur Indonesia agar produk Indonesia makin menguasai pangsa pasar furnitur dunia," ujarnya. menambahkan.

Pada pembukaan tersebut, CEO Scanteak P.C Lim mengaku bangga bisa bekerja sama dengan perusaan-perusahaan asal Indonesia. Furnitur dan olahan kayu asal Indonesia dikenal sangat berkualitas dan kompetitif sehingga berdaya saing global.

"Taiwan merupakan pasar penting bagi produk Scanteak. Karena itu saya menyampaikan terima kasih kepada para supplier Indonesia yang selama ini memasok semua kebutuhan Scanteak," ujar Lim.

(mus)

petani tembakau

RI Tolak Kebijakan Kemasan Rokok Tanpa Merek di Australia

Hal tersebut melemahkan daya saing industri nasional.

img_title
VIVA.co.id
4 November 2016