Teknologi Boiler Bantu Jokowi Kurangi Emisi Hingga 29%

Konferensi Perubahan Iklim 2015
Konferensi Perubahan Iklim 2015
Sumber :
  • REUTERS/Philippe Wojazer

VIVA.co.id - Deputi Kepala Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material (TIEM) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza optimistis dengan tekad Presiden Joko Widodo untuk mengurangi emisi karbon.

Dalam pidatonya di Konferensi Perubahan Iklim di Paris, Prancis, Jokowi mengatakan pemerintah Indonesia bertekad mengurangi emisi karbon 29 persen hingga 2030.
 
BPPT optimistis dengan mempertimbangkan kajian teknologi yang digunakan BPPT. Hammam mengatakan teknologi yang paling membantu yaitu teknologi boiler ultra critical dan boiler ultra supercritical.

“Perkiraan pengurangan emisi hingga 20 persen dengan ultra critical boiler dan ultra supercritical boiler, mungkin tahun 2025,” ujar Hammam kepada VIVA.co.id, Selasa, 1 Desember 2015 di Gedung BPPT, Jakarta Pusat.
 
Kepala Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Andhika Prastawa menyebutkan teknologi Boiler merupakan sarana untuk mengurangi dampak lingkungan di tengah tingginya kebutuhan pembangkit tenaga listrik.
 
Teknologi boiler merupakan teknologi yang mengubah uap menjadi energi listrik yang ramah lingkungan.

“Kita membutuhkan PLTU, dan PLTU menghasilkan polusi, dan boiler jadi alternatif,” ujar Andhika.
 
Kemudian Hamman mengatakan jika Indonesia tidak menggunakan pembangkit tenaga listrik yang tidak efisien, maka emisi karbon tentunya akan semakin besar. Untuk itu BPPT terus bekerja untuk menguatkan inovasi teknologi yang menghasilkan pembangkit listrik yang efisien dan ramah lingkungan.
 
“Misal batu bara, kita bangun pembangkit listrik, tapi yang efisien bagaimana, pakai boiler. Hal-hal seperti inilah yang harus didukung dengan teknologi,” katanya.

Hammam mengatakan dia optimis target penurunan emisi karbon pemerintah Indonesia tercapai, dengan melangkah mulai saat ini.

"Mulai dari sekarang kalau kita upayakan. Kita harus mulai dari besok, harus bisa mulai dari besok untuk mencapai target 2030 (emisi 29 persen)," ujar Hammam.