Menguak Mitos Ikan Pemangsa Alat Kelamin
- ww.bbc.com
Kenapa incar kelamin
Soal mengapa candiru dianggap gencar mengincar kelamin pria, ada analisa yang menduga adalah limbah amonia yang dikeluarkan insang candiru. Bahan limbah tersebut adalah cara ikan candiru itu untuk mencari mangsanya.
Pada 2001, Stephen Spotte, peneliti University of Connecticut, Amerika Serikat menguji gagasan tersebut. Hasil riset Spotte menunjukkan, candiru benar-benar tertarik dengan penanda kimia.
Menariknya saat Samad dan Spotte bertemu untuk menguak candiru itu terdapat debat. Saat Spotte melihat sampel dan kisah yang alami Samad, Spotte meragukannya.
Mitos soal candiru yang bisa meloncat dari air dan melawan aliran kencing untuk masuk ke kelamin juga disangsikan oleh ahli biomekanik University of Calgary di Alberta, Kanada, John Bertram. Menurutnya ide itu konyol, sebab itu berlawanan dengan hukum dinamika cairan.
"Untuk berenang melalui aliran kencing, ikan harus berenang lebih cepat dari aliran sungai dan harus melawan gravitasi," jelas Bertram.
Keraguan selanjutnya dalah bukti sampel yang dimiliki Samad. Sampel itu dianalisa terlalu besar untuk dugaan candiru yang diyakini sangat kecil. Selanjutnya sampel tidak menunjukkan ikan itu masuk ke dalam kelamin pasien. Namun Samad mengklaim ia sengaja memotong duri ikan demi alasan keamanan pasien.
Makanya Spotte kemudian menduga, pasien Samad terlalu berlebihan dan menganggap itu candiru. Spotte menduga pasien tak mengetahui sebenarnya tentang candiru. Akhirnya sampel candiru itu pun dianggap Spotte tidak layak.
Salah tafsir bahasa
Belakangan dalam paper soal candiru pada 2013, Irmgard Bauer, peneliti Universitas James Cook, Australia menemukan adanya kemungkinan para penjelahah Eropa di masa lalu salah menafsirkan perilaku penduduk lokal. Dia mengatakan kemungkinan ada kesenjangan bahasa. Bauer menduga kuat penjelajah Eropa saat itu tidak fasih menerjemahkan bahasa suku lokal.
"Masih ada potensi besar salah tafsir bahasa, postur dan gerak tubuh," tulis dia.
Bauer mengatakan terkait catatan penduduk lokal pria yang melindungi kelamin mereka, bisa saja itu adalah upaya untuk melindungi dari ikan piranha, dan kemudian ditafsirkan sebagai alat perlindungan candiru.
Soal pengobatan teh yang dibuat dari pohon Jagua yang digunakan penduduk lokal, itu bisa saja bukan untuk menghilangkan candiru yang bersarang di saluran kencing. Tapi itu bisa saja sebagai terapi untuk menyembuhkan batu ginjal.
Akhirnya, keberadaan candiru masih misterius. Catatan dan bukti sejauh ini belum ada yang membuktikan ikan yang dimitoskan ganas tersebut. Analisa peneliti menunjukkan ilmu pengetahun memenangi mitos candiru. Bukti candiru belum ada, ikan tersebut sejauh ini makin menjadi mitos.