30% Investor di Batam Akan Hengkang, Ini Reaksi BKPM

Bandara Adisutjipto Yogyakarta saat sempat ditutup karena cuaca buruk
Sumber :
  • VIVA.co.id/Berton Siregar

VIVA.co.id - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani membantah kabar isu yang menyatakan bahwa hampir 30 persen investor di Batam, bakal hengkang menuju ke negara-negara seperti Malaysia dan Vietnam.

"Belum tahu. Waktu saya ke Batam tahun lalu, tidak ada yang berniat hengkang. Mereka justru mau melakukan perluasan investasi," ujar Franky, saat ditemui di Hotel Mercury Kemayoran, Jakarta, Senin 22 Februari 2016.
 
Menurut dia, saat ini, tengah membereskan persoalan dualisme yang meresahkan para investor maupun calon investor yang berkeinginan untuk menanamkan modalnya di lokasi strategis tersebut. 
 
Sehingga, nantinya para investor maupun pengusaha bisa mendapatkan kepastian usaha yang jelas, tanpa adanya gangguan dari tumpang tindih kewenangan antara pemerintah Batam, maupun otoritas terkait.
 
"Kami sedang membenahi pengelolaan, supaya memberikan kepastian dan membuat Batam semakin menarik bagi investor yang baru. Kami akan buat pengelolaan investasi di Batam jadi lebih baik," kata Franky.
Thomas Lembong akan Revisi Daftar Negatif Investasi
 
Sebelumnya, Pejabat Gubernur Kepulauan Riau Nuryanto mengungkapkan, hampir 30 persen investor yang berada di kawasan perdagangan bebas tersebut, mengancam akan hengkang dari Indonesia, karena alasan pasar di wilayah Batam yang tidak kompetitif.
Cari Data Investasi Lebih Akurat BKPM Gandeng BPS
 
"Batam tidak kompetitif, karena ada negara lain yang lebih baik manajemennya," ujar Nuryanto, seusai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jakarta, Jumat 19 Februari 2016.
Manfaat dan Risiko Investasi Obligasi
 
Nuryanto menjelaskan, para investor tersebut merasa bahwa ada negara lain yang memiliki nilai investasi yang menjanjikan, serta memiliki manajemen bisnis yang lebih baik dibandingkan Indonesia. Atas dasar inilah, pemerintah berusaha membenahi permasalahan tersebut.
 
"Kami tahu, Malaysia menawarkan yang lebih baik. Vietnam juga lebih baik. Mudah-mudahan dengan pembenahan manajemen ini, mereka (investor) mengurungkan niatnya," kata dia. (asp)
 
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya