BI Ungkap Faktor Pemicu Penguatan Rupiah

Ilustrasi uang rupiah.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

VIVA.co.id - Bank Indonesia menyatakan bahwa nilai tukar rupiah hingga 14 Maret 2016 tercatat mengalami apresiasi 5,26 persen year to date (ytd), jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu.

 
Deputi Gubernur BI Hendar mengungkapkan, semakin derasnya aliran modal yang masuk ke setiap instrumen keuangan Indonesia memang memicu penguatan rupiah. Saat ini, rupiah berada di kisaran Rp13.300 per dolar AS.
 
“Nilai tukar relatif membaik. Capital inflow (arus modal masuk) tidak hanya di pasar SBN (Surat Berharga Negara), tapi juga di pasar saham,” kata Hendar saat ditemui di BI Institute Jakarta, Senin 28 Maret 2016.
 
Hendar mengatakan, terapresiasinya rupiah memang tak lepas dari alur kebijakan bank sentral yang tetap memprioritaskan strategi untuk tetap menjaga stabilitas makro ekonomi nasional, ketimbang pertumbuhan secara keseluruhan. Hasilnya, defisit transaksi berjalan pun terkelola dengan baik.
 
Awal Pekan, Hati-Hati Rupiah Terdepresiasi
“Kita patut bersyukur, karena CAD (Current Account Deficit) terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) sepanjang tahun lalu lebih baik dari 2014,” kata dia.
 
Dibuka Menguat, IHSG Lanjutkan di Jalur Hijau
Meski begitu, Hendar mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh terlena dengan kondisi seperti ini. Sebab, gejolak perekonomian eksternal masih akan tetap menghantui. Karena itu, perlu adanya langkah konkret guna mengantisipasi hal ini.
 
Penguatan Rupiah Dihantui Sentimen Negatif Ekonom Global
“Masih ada tantangan besar yang perlu dipraktikkan. Jumlah likuiditas di pasar domestik masih harus ditingkatkan,” tuturnya.
 Dolar AS dan rupiah.

Dolar Masih Lemah, Rupiah Melaju di Jalur Hijau

Program tax amnesty terus menjaga rupiah tetap di zona positif.

img_title
VIVA.co.id
11 Agustus 2016