ATSI Serahkan Penurunan Tarif Interkoneksi ke Operator

Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli.
Sumber :
  • Viva.co.id/Agus Tri Haryanto

VIVA.co.id – Ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Alexander Rusli mengungkapkan asosiasinya tidak turut terlibat dalam penentuan Seperti diketahui, pemerintah dan operator teleh sepakat soal tarif interkoneksi turun sekitar 26 persen.

Pemimpin Pasar Telekomunikasi Global Dukung Ekonomi Digital Indonesia

"ATSI tidak bisa berkomentar karena tidak satu pandangan (anggotanya). Kita tidak turut merumuskan penentuan tarif interkoneksi. (Pertemuaan kemarin) itu atas nama masing-masing operator, bukan ATSI," kata Alexander ditemui Viva.co.id, Rabu malam, 25 Mei 2016.

merupakan transaksi antaroperator yang memungkinkan terjadinya panggilan off-net atau antaroperator. Sementara tarif on-net adalah tarif yang dibebankan pada penggunaan jaringan yang sama. Tarif off-net dibebankan pada penggunaan lintas jaringan, misalnya, antaroperator. Sedangkan biaya interkoneksi ialah komponen yang dikeluarkan operator untuk melakukan panggilan lintas jaringan. Biaya ini salah satu komponen dalam menentukan tarif ritel selain margin, biaya pemasaran dan lainnya

Industri Telekomunikasi 2023: Tetap Optimis meski Tidak Baik-baik Saja

Sementara ketika ditanya mengenai sudut pandang Indosat, Alexander, yang juga CEO Indosat Ooredoo mengaku sangat mengharapkan adanya penurunan kembali.

"Kami di Indosat tentunya mengharapkan lebih (turun lagi). Kami berharap turun bisa sampai 40-45 persen. Itu baru kesepakatan saja, peraturan menterinya juga belum ada," kata dia.

Industri Telekomunikasi, E-Commerce hingga Edutech Kumpul Bahas 4 Pilar

Alexander mengungkapkan pihaknya berharap ini menggunakan metode asimetris, yaitu lebih memihak operator kecil agar setara. Sedangkan, tarif interkoneksi selama ini menggunakan metode simetris alias dibebankan secara sama ke semua operator, baik dari sisi jumlah pelanggan, infrastruktur dan sebagainya.

"Kalau asimetris menurut definisi global secara umum itu lebih memenangkan operator yang kecil, tapi kelihatannya ada perkembangan pembicaraan kalau asimetris ini memenangkan yang lebih besar, itu enggak umum. Kami dari di Indosat setuju dengan definisi global, bahwa asimetris itu memenangkan operator kecil, agar akhirnya setara," tutur dia.

Meski demikian, Alexander mengatakan, kesepakatan turun 26 persen ini jauh lebih baik dari sebelumnya, yaitu Rp1 turunnya. Dikatakan dia, turun hingga 26 persen ini juga imbauan dari Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara agar perbandingan on net dan off net bisa sampai 3,5 kali.

"Menteri (Rudiantara) juga mengeluarkan statement antara off net dan on net harus dibatasi 3,5 kali nantinya, sekarang realitasnya, perbandingannya hingga 7-8 kali," ungkapnya.

Layanan platform OTT (over the top).

Indonesia Diminta Belajar dari Inggris dan Turki

Indonesia bisa belajar dari Austria, Prancis, Hungaria, Italia, Portugal, Spanyol, Turki, dan Inggris yang telah menerapkan Digital Services Task (DST) untuk layanan OTT.

img_title
VIVA.co.id
28 Desember 2023