2 Tempat Ini Bakal Jadi Pusat Industri Petrokimia Terbesar

Kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI).
Sumber :
  • VIVA.co.id/Arie Dwi Budiawati

VIVA.co.id – Pengoperasian kilang Trans Pacific Petroleum Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur dan Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) Cilacap, Jawa Tengah, yang dikelola oleh PT Pertamina berdampak signifikan bagi perekonomian nasional. Karena, dua tempat tersebut ke depan akan menjadi kompleks industri petrokimia terbesar di Tanah Air. 

img_title Konsumsi BBM Yamaha Grand Filano Diklaim Mencapai 60 Km per Liter

Selain memasok kebutuhan industri dasar dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), pengoperasian dua kilang pengolahan tersebut juga akan mengurangi penggunaan devisa.
 
"Secara keseluruhan, tentunya dengan beroperasi kedua kilang tersebut negara diuntungkan," ujar Dirgo Purbo, staf pengajar Geoekonomi Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) dalam keterangan resminya, Selasa 12 Juli 2016.
 
Kilang TPPI, yang terkenal akan teknologinya yang canggih dan efisien, dalam jangka panjang  akan menjadi kompleks industri petrokimia. Potensi kawasan itu menjadi pusat pengembangan petrokimia sangat besar, karena kilang TPPI selain mampu memproduksi premium, solar, elpiji dan HOMC 92 yang dikenal sebagai pertamax 92, juga dapat menghasilkan aromatik. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bahan-bahan turunan dimaksud antara lain, petrochemical, seperti paraxylene, orthoxylene, benzene, dan toluene yang dibutuhkan oleh industri nasional. 

img_title Semakin Kencang Mobil Melaju, Ban Justru Makin Boros Energi

"Ini adalah masa depan industri dasar petrokimia di Indonesia, jangan berhenti," tambahnya. 
 
Sedangkan RFCC Cilacap, selain produksi bahan bakar minyak juga memproduksi petrokimia dengan peningkatan menonjol pada produksi paraxylene dari 280 ribu barel per hari menjadi 485 ribu barel per hari. 

RFCC Cilacap juga mengembangkan pabrik produksi polypropylene baru untuk menaikkan produksi poly propylene menjadi 153 ribu kilo ton per tahun. Proyek ini ditargetkan tuntas dan beroperasi pada 2021.
 
Berdasarkan data Pertamina, pengoperasian RFCC Cilacap dan kilang TPPI membuat impor premium turun sekitar 30-42 persen dan pengurangan impor minyak diesel atau solar sebanyak 44 persen. Unit RFCC mengolah feed stock berupa LSWR sebanyak 62 ribu barel per hari (bph) menjadi produk bernilai tinggi, yaitu HOMC 37 ribu bph. 

img_title Mobil Irit BBM Belum Tentu Efisien, Kok Bisa?

Dari produksi HOMC tersebut, sebagian besarnya diproses lebih lanjut untuk diproduksi menjadi premium sehingga produksi premium dari kilang Cilacap naik dari 61 ribu bph menjadi 91 ribu bph.

Sementara itu, kilang TPPI dapat mengolah sekitar 100 ribu barel per hari kondensat dan naphta. Dari pengolahan bahan baku dengan mogas mode akan diperoleh beberapa produk minyak, seperti elpiji, solar, fuel oil, premium, dan HOMC.  TPPI dapat menghasilkan sekitar 61 ribu bph premium, 10 ribu bph HOMC, dan 11.500 bph solar. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut