Akusisi PGE oleh PLN Dinilai Berisiko

Ilustrasi sumur PGE.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

"Di dunia, perusahaan yang mengembangkan panas bumi seperti Chevron, yang bergerak di upstream. Di Indonesia demikian pula, ada Pertamina dan Supreme Energy yang notebenenya perusahaan migas," ungkap dia. 

img_title Erick Thohir Rombak Direksi Pertamina, Mulyono Jadi Direktur Logistik

Senada dengan Abadi, Pengamat Energi dari Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, dari total jatah PLN pada proyek pembangkit 35 ribu MW sebesar 25-30 persen, yang belum terkontrak mencapai 70 persen. Bahkan, dari 30 persen yang sudah memiliki kontrak, hanya beberapa di antaranya yang sudah beroperasi (commercial operation data/COD).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi susah dimengerti keinginan PLN yang mau mengakuisisi Chevron dan PGE," lanjut dia.

img_title Erick Thohir Resmi Tunjuk Zulkifli Zaini Jadi Direktur Utama PLN

Selain itu, Komaidi juga menyoroti performa kinerja keuangan PLN yang tahun ini berpotensi mengalami selisih kerugian akibat tidak disetujuinya rencana pencabutan subsidi pelanggan listrik 900 VoltAmpere (VA). 

"Potensi kerugian dari selisih laba seiring persetujuan subsidi. Itu bisa mencapai Rp15 triliun-Rp25 triliun, tergantung PLN melakukan adjumen di sana-sini," ungkapnya.

img_title Jonan Minta Direksi PLN Tuntaskan Sambungan Listrik untuk Warga Miskin

Sementara itu, Direktur Panas Bumi Direktorat Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yunus Saifulhak, mengatakan rencana akuisisi PGE oleh PLN bukan hal yang mudah untuk direalisasikan. Apalagi Pertamina lebih unggul dalam pengembangan energi panas bumi. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Tapi tentu itu domain Kementerian BUMN. concern kami adalah bagaimana eksplorasi dipercepat, sehingga panas bumi bisa berkembang," kata Yunus.

(ren)
 

Hoax gara-gara HTI Pertamina rugi Rp11 Triliun

Gara-gara HTI Pertamina Rugi Rp11 Triliun, Cek Faktanya

Pertamina mengalami kerugian Rp11 triliun. Benarkah gara-gara HTI?

img_title
VIVA.co.id
2 September 2020
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut