VIDEO: Satelit Bisa Petakan Kemiskinan Dunia

Ilustrasi peta dunia
Sumber :
  • Pixabay/PublicDomainPictures

VIVA.co.id – Peneliti Stanford University, California Amerika Serikat punya terobosan untuk memetakan kemiskinan di belahan dunia. Pengukuran tingkat kemiskinan memang terbilang sulit, apalagi daerah di negeri berkembang.

img_title Kementrans Dorong Teknologi Kedirgantaraan Buka Keterisolasian Kawasan Transmigrasi, Industrialisasi Dipercepat

Nah, peneliti menggunakan pencitraan satelit dan bantuan dari mesin pempelajaran, untuk menentukan secara lebih tepat, daerah mana saja yang termasuk miskin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam studinya yang diterbitkan dalam jurnal Science, dikutip The Verge, Jumat 19 Agustus 2016, untuk menentukan daerah mana yang miskin dan kaya, peneliti mengandalkan dari hasil pencitraan cahaya pada malam hari.

img_title Satelit Telkomsat Dioptimalkan Untuk 17 Titik Daerah Terdampak Gempa NTT

Dalam studinya, peneliti menggunakan tiga data komputer yaitu gambar cahaya saat malam hari, gambar saat siang hari dan data survei terbaru. Kombinasi tiga data itu dipakai untuk membuat algoritma yang memprediksi area kaya dan miskin.

Untuk membangun algoritma pembelajaran peta kemiskinan, peneliti menjalankan dua tahap yang disebut 'transfer learning'. Tahap pertama, peneliti menunjukkan jaringan gambar saat siang hari dan gambar malam hari di empat negara Afrika, yaitu Uganda Tanzania, Nigeria, Malawi dan Rwanda.

img_title BRIN Jawab Kekhawatiran Kebocoran Data dalam Proyek Satelit Lampung-1

Dengan memakai teknik pembelajaran mendalam, peneliti diajarkan memprediksi bahwa cahaya malam akan dikombinasikan dengan gambar siang hari dan dicarikan korelasinya.

Dalam hal ini, misalnya, jika ada banyak rumah di suatu area, maka asumsinya akan punya banyak cahaya pada malam hari. Sebaliknya jika suatu area hanya punya lapang tanah saja, berarti asumsinya saat malam hari, area itu tak punya lampu.

Langkah kedua, peneliti memakai model yang berbeda yaitu model regresi ridge. Model ini sudah banyak dikenal untuk menghubungkan  fitur daratan dan cahaya. Dalam studinya, peneliti mengolah model itu dalam seperangkat informasi, dengan menggunakan data survei aktual dari Demographic Health Services and World Bank Living Standards Measurement Study.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dari olah dan kombinasi data pada algoritma itu, peneliti mampu menentukan tingkat kekayaan 10 rumah. Misalnya, 10 rumah itu berpendapatan rumah tangga US$1,90 per hari .

Salah satu penulis studi, Neal Jean mengatakan, gagasan memetakan kemiskinan berbasis pencitraan satelit itu akan membantu terutama di daerah yang tidak punya atau belum tersentuh survei.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut