Twitter PHK Karyawan, Pengamat Salahkan Jack Dorsey
- Reuters/Fabrizio Bensch
Periode buruk itu dirasakan Dorsey padahal sudah setahun menduduki kursi CEO permanen, meneruskan Costolo.
Dikutip dari laman Investor, laba bersih per lembar saham Twitter diperkirakan akan turun 10 persen dibanding laba pada tahun sebelumnya. Sementara analis memperkirakan laba bersih per lembar saham Twitter belum bisa bangkit alam dua kuartal ke depan, yaitu kuartal terakhir tahun ini dan kuartal pembuka pada 2017.Â
Analis juga berpendapat, seharusnya pendapat yang dikantungi Twitter bisa naik 6 persen menjadi US$606 juta per tahun. Namun penurunan performa perusahaan itu memang berdampak pada penurunan nilai saham.Â
Analis mencatat kemungkinan dengan episode buruk dua kuartal ke depan, maka itu akan menjadi pelambatan pendapatan Twitter selama sembilan kuartal berturut-turut. Sejak kuartal kedua 2014, tercatat pertumbuhan pendapatan Twitter terus menurun hingga kini.Â
Kegagalan pertumbuhan perusahaan, tak pelak membuka peluang perusahaan lain untuk mengambil alih Twitter. Namun meski di awal-awal banyak peminat potensial yang mengajukan penawaran, belakangan semuanya tak melanjutkan niat membeli Twitter.Â
Tercatat beberapa calon peminang Twitter yaitu Alphabet, induk perusahaan Google, Walt Disney, Salesforce sampai Apple.Â
Sisi lainnya kegagalan Twitter juga dilihat dari peran Dorsey, yang saat ini sebenarnya menduduki dua kursi CEO. Selain menahkodai Twitter, Dorsey juga menjadi CEO perusahaan mobile, Square. Hal ini dipandang turut berkontribusi bagi kegagalan mendongkrak performa perusahaan.Â
Peran CEO ganda  Dorsey itu mendapat soroan dari investor legendaris, Bill Miller.  Dia mengatakan dengan menjadi CEO dua perusahaan, menurutnya akan sangat menyulitkan bagi perusahaan yang dikembangkan.Â
"Gila memiliki Jack Dorsey yang menjadi CEO paruh waktu di perusahaan dengan problem yang dimiliki Twitter," jelas Miller dalam sebuah acara dikutip dari CNBC.Â
Miller berpendapat, dengan memerankan CEO paruh waktu, maka itu bisa saja bawahannya Kepala Finansial (CFO) bisa melakukan hal serupa.Â
"Jika CEO paruh waktu masuk akal, maka akan masuk akal pula CFO paruh waktu, Kepala Teknologi perusahaan paruh waktu. Hal itu sangat tidak masuk akal," kritiknya.Â