Pertamina Tambah Sembilan Aset Baru di Luar Negeri
- ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Menurut Dirgo, investasi yang dilakukan Pertamina di Gabon dan Nigeria cukup bagus. Yang menjadi perhatian adalah investasi di Prancis dan Italia.
"Jadi perlu ditinjau dari sudut geopolitik dan geostrategi, negara mana saja yan perlu fokus untuk melakukan investasi, khususnya yang berbentuk kriteria total investment EP atau sekadar farm-in," ujarnya menambahkan.
Bahkan, lanjut Dirgo, seyogyanya potensi investasi di sektor hulu harus lebih diutamakan di dalam negeri terlebih dahulu dengan menggiatkan kembali ladang-ladang tua yang masih mempunyai potensi recoverable 30 persen.
Pengamat Energi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Fahmi Radhi mengatakan, jika indikatornya peningkatan produksi dan aset, kinerja Pertamina International di sektor hulu semakin baik. Apalagi aksi korporasi dengan ekspansi ke luar negeri merupakan suatu keniscayaan bagi Pertamina untuk menjadi pemain global, tidak hanya berjaya di dalam negeri.
"Ekspansi ke tujuh negara, yang dua negara di antaranya sudah berproduksi merupakan aksi korporasi yang sangat tepat. Selain memperkecil risiko kegagalan, juga untuk mengatasi masalah kekurangan produksi minyak di Indonesia," kata Fahmi.
Menurut dia, ekspansi ke luar negeri harus dilanjutkan secara berkelanjutan. Untuk tahap sekarang, akuisisi lahan yang sudah produksi paling tepat. Jika Pertamina sudah benar-benar siap, pada saat itulah perseroan bisa masuk ke lahan migas yang baru dengan melakukan eksplorasi dan eksploitasi
"Untuk saat ini, produksi dari lahan migas di luar negeri diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan BBM (bahan bakar minyak) di dalam negeri. Saat ini ketahanan energi bisa dipenuhi baik dari sumber migas dalam negeri, juga sumber luar negeri yang dihasilkan Pertamina," ujar Fahmi.
(mus)