Kacamata Kayu Produksi Mantan Napi Diminati Pasar Eropa
- Lucky Aditya/VIVA.co.id
Dia mengaku modal awal dari produksi kacamata kayu berasal dari dana pinjaman Yayasan Sadar Hati. Sementara jumlah pekerjanya saat ini sekitar 10 orang.
"Kami masih selektif memilih pekerja. Tidak menerima yang masih pakai narkoba, yang bukan mantan pengguna narkoba dan mantan napi. Saat ini, yang mantan napi 40 persen dan 60 persen mantan pengguna narkoba. Yang mantan napi tersebut juga mantan pengguna narkoba," tutur Theo.
Untuk bahan pembuatan, kayu yang dipilih adalah produk ramah lingkungan, bahan daur ulang pabrik furnitur, kusen dan kayu-kayu bekas bongkaran rumah, sedangkan engsel kacamata dari rantai bekas. Selain itu, kayu memiliki corak dan serat yang bagus serta unik, sehingga kacamata yang dihasilkan beda.
Theo mengaku Sahawood mampu membuat 25 kacamata dalam sepekan. Harga jualnya bervariasi mulai Rp450 ribu sampai Rp600 ribu.
Setiap hari, dia mampu menjual dua hingga tiga kacamata. Penjualan paling banyak dilakukan dengan cara online, karena mampu menyasar semua konsumen.
"Ya mulai Singapura, Inggris, Australia, Malaysia, Jerman dan lokal Indonesia. Ada beberapa tawaran kerja sama untuk jadi distributor di Malaysia, Singapura, dan Bali. Di Bali sudah ada retail store yang menjual produk kami. Yang lainnya masih kami jajaki," kata Theo.
Dia mengungkapkan omzet produksi kacamata per bulan bisa mencapai Rp5 juta hingga Rp10 juta. Pendapatan itu dibagi secara rata kepada para pekerja.
Dia bersama Sahawood mengaku tidak terlibat dalam pembagian hasil keuntungan, karena pihaknya berkeinginan mengajarkan manajemen usaha kepada mantan pengguna narkoba dan napi. Target ke depan adalah memperbesar kapasitas produksi, memperbaiki kualitas dan memperbesar pangsa pasar untuk meningkatkan pendapatan.