Produksi Blok East Natuna Bakal Molor

Kepala Dirjen Migas I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja
Sumber :
  • VIVA.co.id/M. Ali. Wafa

VIVA.co.id – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan para kontraktor yang tergabung dalam konsorsium pengembangan Blok East Natuna kembali mengkaji perubahan skema pengelolaan blok tersebut. Alhasil, pengembangan blok tersebut, yang semula terus diupayakan untuk dipercepat berisiko kembali molor.

img_title Reaktivasi Pabrik PIM-1 Bakal Tingkatkan Produksi Pupuk Indonesia

Untuk diketahui, pemerintah telah menetapkan Blok Migas East Natuna dikelola oleh konsorsium yang dipimpin oleh PT Pertamina. Dengan beranggotakan Exxonmobil dan PTT EP Thailand.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja mengungkapkan, perubahan skema produksi dan prioritas hasil produksi masih dikaji untuk diubah. Jika pada awalnya, minyak yang diprioritaskan untuk segera diproduksi, saat ini dikaji agar produksi minyak dan gas dapat dilakukan bersamaan. 

img_title Harga Komoditas Dunia Meroket, Kargo Batu Bara Terdongkrak Naik

"Tadinya kami ingin yang minyak dulu, atau yang di struktur AP (penanda minyak) dulu, tapi banyak hal yang harus dibahas, jadi belum bisa dimulai. Ada pertimbangan digabung (minyak dan gas)," ujar Wiratmaja ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa 10 Januari 2017. 

Seharusnya, penandatanganan kontrak (PSC) ditargetkan pemerintah pada awal 2017. Namun, kondisi itu tampaknya belum dapat terealisasi. Masih ada beberapa kesepakatan yang membutuhkan proses. 

img_title Konflik Rusia ke Ukraina Dongkrak Harga Minyak RI

Awalnya, pemerintah pun meminta minyak diproduksi terlebih dahulu untuk bisa mendorong peningkatan produksi dan target lifting minyak nasional. Sementara itu, saat ini, ada rencana untuk melakukan penggabungan produksi minyak dan gas secara bersamaan.

Diproyeksikan, Blok East Natuna mampu memproduksi minyak sebanyak 7-15 ribu barel per hari (bph). Angka itu terbilang sedikit lantaran kandungan gas di Blok East Natuna sangat besar bahkan melebihi cadangan blok gas abadi Masela.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, potensi gas Blok East Natuna yang ada di struktur LP (penanda gas) mencapai 222 triliun cubic feet (tcf). Namun, gas yang bisa dimanfaatkan hanya 46 tcf, karena 72 persen adalah karbondioksida.

Wiratmaja menambahkan, pengelolaan Blok East Natuna akan dimasukkan dalam kontrak dengan skema gross split yang payung hukumnya sedang difinalisasi oleh Kementerian ESDM. East Natuna akan menjadi salah satu kontrak baru yang diputuskan menggunakan skema gross split. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut