Faisal Basri Ramal Ekonomi RI Kuartal I di Bawah Lima Persen

Ekonom Senior Faisal Basri
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Andika Wahyu

VIVA.co.id – Geliat ekonomi nasional sepanjang Januari-Maret 2017, diperkirakan tidak akan tumbuh di atas lima persen. Konsumsi masyarakat yang masih relatif rendah di awal tahun, menjadi salah satu penyebab utama pertumbuhan ekonomi dalam negeri kuartal pertama masih terbilang lesu.

Cerita Faisal Basri Diminta Sang Ayah Jadi Dokter

“Kalau lihat data-data yang ada, saya kira ada di bawah lima persen,” kata Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri, dalam sebuah diskusi, Jakarta, Kamis 4 Mei 2017.

Faisal menjelaskan, meskipun harga komoditas mulai bergerak naik dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia tidak bisa terlalu banyak mengandalkan aktivitas ekspor. Sebab, tidak selamanya ekspor memberikan sentimen positif bagi perekonomian nasional.

Faisal Basri Sebut Menko Luhut Lebih Bahaya dari Virus Corona

Sementara dari investasi di kuartal pertama, mantan Ketua Tim Refomasi Tata Kelola Minyak dan Gas itu pesimistis, sektor tersebut akan memberikan pengaruh banyak. Maka dari itu, harapan satu-satunya untuk mendongkrak perekonomian hanyalah dari sisi konsumsi masyarakat.

“Karena government spending kontribusinya hanya sembilan persen, dan itu tidak berubah. Jadi tidak mungkin government spending itu bisa mengangkat,” katanya.

Beri Peringatan, Faisal Basri Sebut Omnibus Law Berbahaya

Melihat kondisi global dan dalam negeri, Faisal mengaku tak yakin, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini bisa berada di angka 5,1 persen, sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2017. Perlu adanya extra effort untuk menggenjot pertumbuhan.

“Perkiraan saya tidak bisa. Paling tinggi, sama seperti tahun lalu di angka lima persen,” ujarnya.

Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa, menjelaskan hasil survei.

LSI Denny JA: Ekonomi Rakyat Berada di Zona Merah

Kondisi ekonomi mereka jauh lebih buruk dibandingkan sebelum pandemi.

img_title
VIVA.co.id
7 Juli 2020