Warga Perbatasan RI Transaksi Pakai Dolar dan Ringgit
- Antara/ Yudhi Mahatma
“Penggunaan dolar AS dalam transaksi bisa kami tekan dari sekitar US$6 miliar, menjadi sekarang hanya di kisaran US$1,4 miliar. Jadi tidak hanya peraturan kewajiban penggunaan yang kami keluarkan, tapi kami juga sediakan fasilitasnya,” katanya.
Kurang percaya diri
Gubernur NTT Frans Lembu Raya memandang, masih terjadinya transaksi menggunakan mata uang asing di wilayah perbatasan, lantaran pemikiran masyarakat setempat yang belum terbentuk untuk mencintai mata uangnya sendiri. Padahal, rupiah merupakan simbol dan jati diri bangsa.
“Kadang-kadang orang kita tidak percaya diri. Merasa yang di luar sana lebih hebat dari orang kita. Ini yang harus kita angkat. Kita harus tunjukan pada dunia, negeri ini punya harga diri,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi NTT pun akan kembali mensosialisasikan kewajiban penggunaan rupiah di seluruh wilayah, tak terkecuali daerah perbatasan. Menurut Frans, meskipun daerah perbatasan dianggap wilayah terpencil, masih ada masyarakat yang bisa mengerti arti memiliki rupiah.
“Dulu saya bilang, buka itu money changer di perbatasan. Jadi orang yang masuk, bisa menggunakan rupiah. Nanti akan kami dorong kios, toko, Hypermart, warung hanya boleh menerima rupiah, jangan menerima dolar,” katanya.