DPRD Semarang Soroti Buruknya Manajemen Jamu Nyonya Meneer
- njonjameneer.com
VIVA.co.id – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Semarang, Supriyadi, menyoroti kasus pailitnya perusahaan jamu legendaris Nyonya Meneer oleh pengadilan. Ia mencurigai bangkrutnya pabrik jamu tertua di Indonesia itu tak lepas dari buruknya manajemen yang dikelola keluarga.
"Tentunya masalah manajemen yang buruk. Apalagi selama ini perusahaan jamu itu dikelola oleh keluarga," kata Supriyadi kepada VIVA co.id di Semarang, Selasa, 8 Agustus 2017.
Penilaian tersebut, menurut Supriyadi bukanlah tanpa alasan. Sebagai perusahaan jamu ternama sejak 1919 silam, berbagai produk jamu Nyonya Meneer sebenarnya sudah lekat di hati masyarakat. Namun, perusahaan itu rupanya masih menggunakan cara promosi konvensional tanpa melihat persaingan bisnis zaman sekarang.
"Setidaknya mereka tidak berinovasi dan kalah dengan obat-obatan modern. Salah satunya pemasaran yang tidak diperluas di toko-toko besar," ujar dia.
Ia berpandangan produk apa pun kalau dikelola manajemen bagus pasti laku. Salah satunya dengan melakukan kerja sama dengan perusahaan lain yang mampu mendongkrak penjualan. Sehingga kesan jamu Nyonya Meneer tak hanya bisa dibeli di depot-depot khusus jamu saja.
"Mungkin bisa dikerjasamakan dengan produk lain. Produk Nyonya Meneer kan banyak. Jadi pasarnya lebih luas," katanya.
Sebagai perwakilan warga Semarang, Politisi PDI Perjuangan itu menyayangkan bangkrutnya perusahaan asli kota lumpia itu. Namun lagi-lagi, manajemen keluarga yang dipakai Nyonya Meneer membuat pemerintah kota tak bisa mengintervensi.
"Memang harusnya pemerintah ikut terlibat menyelamatkan. Tapi masalahnya enggak bisa intervensi manajamen," ujar dia.
Perselisihan Penerus
Setelah meninggalnya Nyonya Meneer, sang perintis usaha pada 1978, usaha jamu diteruskan langsung ke generasi ketiga yakni cucunya yang berjumlah lima orang.
Peralihan tersebut memicu perselisihan cukup lama antara generasi penerusnya. Diduga akibat hubungan yang kurang harmonis membuat persaudaraan lima cucu Nyonya Meneer pecah. Mulai dari perselisihan internal keluarga penerus, beban utang, dan kurangnya inovasi pada produk mereka.
Terakhir perusahaan itu terpuruk. Pengadilan Negeri Semarang menyatakan PT Nyonya Meneer pailit. Pabrik yang tercatat dikelola Charles Saerang itu pailit karena tumpukan utang yang tidak bisa dibayarkan.