Ketua Umum Partai Idaman, Rhoma Irama

Seni, Dakwah, dan Politik adalah Satu Napas

Ketua Partai Idaman Rhoma Irama.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin

VIVA.co.id – Komisi Pemilihan Umum sudah membuka pendaftaran partai politik yang akan menjadi peserta Pemilihan Umum 2019. Pendaftaran dibuka sejak 3 Oktober lalu, dan akan berlangsung  hingga 16 Oktober 2017.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pemilu, setiap partai politik wajib mendaftarkan diri dan menjalani verifikasi oleh KPU di tingkat pusat dan kabupaten/kota. Untuk itu usai mendaftar, KPU akan segera melakukan verifikasi.

Namun, sejumlah partai politik menggugat aturan terkait verifikasi tersebut, salah satunya Partai Idaman. Partai besutan Rhoma Irama tersebut, mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi terkait beleid tersebut.

Rhoma mengatakan, aturan tersebut diskriminatif dan tidak adil. Selain soal verifikasi, Partai Idaman juga menggugat aturan terkait presidential threshold.

Kepada VIVA.co.id, Raja Dangdut ini bercerita panjang lebar terkait alasannya memilih mendirikan Partai Idaman dan enggan bergabung dengan partai yang sudah mapan. Wawancara dilakukan di kantor DPP Partai Idaman di kawasan Cawang, Jakarta Timur beberapa waktu lalu. 

Apa yang membuat Partai Idaman menggugat UU Pemilu?

Kita menguji materi UU Pemilu, yaitu pasal 222 mengenai Presidential Treshold (PT) dan pasal 173 mengenai sistem verifikasi partai politik. 

Kenapa?

Kami menilai bahwa mengacu persentase anggota DPR RI periode sebelumnya, yaitu 2014-2019, itu sangat tidak relevan, karena menurut keputusan MK Nomor 14 tahun 2013 bahwa Pemilu 2019 akan dilaksanakan secara serentak. Artinya, tidak ada jeda untuk anggota DPR RI menghitung perolehan anggota DPR RI, jadi perolehannya itu tidak diketahui. 

Selain itu?

Pasti akan ada dinamika pada 2019. Contoh, dulu perolehan suara Partai Kebangkitan Bangsa rendah, kemudian menjadi tinggi. Sementara itu, Partai Demokrat yang tadinya tinggi menjadi rendah. Jadi, ini tidak bisa dijadikan acuan. Karena, itu permohonan kami kepada MK bahwa PT ini harus zero, atau tanpa ambang batas. 

Soal PT dan verifikasi partai bukannya sudah dilakukan pada pemilu sebelumnya?

Jika Pemilu yang lalu silahkan, karena saat itu ada jeda antara Pileg dan Pilpres. Sehingga, yang dijadikan acuan ketika itu hasil perolehan pilegnya, berapa persen yang bisa mencalonkan presiden. Tetapi, kalau pelaksanaannya serentak seperti 2019 bagaimana? Kita tidak tahu jumlah perolehan suara, perolehan kursi legislatifnya, karena belum ketahuan, karena serentak. 

Partai Idaman mengajukan uji materi sendiri atau bergabung dengan partai lain?

Waktu itu, kita mendaftar kita sendiri, tidak bergabung dengan partai lain.

Kenapa?

Kita ingin menunjukkan kepada rakyat Indonesia bahwa kita ini partai yang serius. Partai yang peduli terhadap konstitusi dan demokrasi.

Soal verifikasi Parpol, apa yang menjadi keberatan Partai Idaman?

Ada peraturan, kalau tidak salah Peraturan KPU dalam UU Pemilu yang lalu yang menyatakan verifikasi hanya sampai tingkat kabupaten, kecamatan tidak diverifikasi secara faktual. Kita berharap, itu juga bisa terjadi pada 2019. Jadi, partai-partai baru tidak usah diverifikasi sampai tingkat kecamatan. 

Kedua, Pemilu itu dilaksanakan secara Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia, Jujur, dan Adil. Kalau mengacu pada azaz keadilan, ya diverifikasi semuanya, karena ada dinamika politik, ada yang namanya fluktuasi politik, sehingga tidak ada satu partai politik yang konsisten terkait perolehan suara. Begitu juga, dalam kepengurusan, atau struktur. Jadi, kalau mengacu pada azaz keadilan memang harus diverifikasi baik yang existing (sudah ada) maupun yang baru.

UU Pemilu yang baru hanya mewajibkan partai baru yang diverifikasi?

Iya, partai baru saja yang diverifikasi, partai lama tidak. Artinya, kita mengajukan judicial review itu, agar proses ini bisa mengacu sesuai azaz keadilan dan demokrasi.

Apa benar, salah satu alasan uji materi UU Pemilu karena Partai Idaman berniat mengusung Anda di Pilpres 2019? 

Itu untuk legal standing. Karena, yang bisa mengajukan uji materi Presidential Treshold kan yang punya legal standing, yakni partai politik yang memiliki, atau mengajukan capresnya. Jadi, tanpa itu tidak bisa melakukan uji materi. 

Maksudnya?

Dalam konteks ini, bukan Rhoma berambisi untuk menjadi presiden, tidak. Tetapi, sebagai legal standing.

Selain masalah legal standing, apakah Partai Idaman atau Anda tidak ada niat untuk maju sebagai Capres di Pilpres 2019?

Itu domain partai yang akan diputuskan pada Musyawarah Nasional, kalau kita lolos verifikasi KPU. Yang penting sekarang ini, kita konsentrasi bagaimana kita bisa lolos verifikasi KPU. Jadi, soal pencalonan Presiden, siapa pun yang kompeten yang terbaik yang memenuhi syarat kita dukung. Jadi, bukan harus Rhoma Irama.

Berikutnya, bicara verifikasi>>>

Bicara verifikasi, sudah sejauh mana persiapan Partai Idaman?

Insya Allah, 100 persen provinsi sudah siap. 75 persen Kabupaten dalam proses. Tingkat kecamatan kan, cuma Surat Keputusan (SK) saja, Insya Allah itu juga tengah kita persiapkan.

Kira-kira, sampai tingkat kecamatan kapan semua akan selesai?

50 persen kecamatan tidak diverifikasi secara faktual, cuma administratif jadi hanya SK. Insya Allah, itu semua akan kita kejar. Dari sekitar 7.000 kecamatan, saat ini tengah kita proses.

Apa target Partai Idaman di Pemilu 2019?

Yang pasti kita ingin turut berkontribusi secara konkret terhadap pembangunan nasional.

Ketua MK Sebut UU Pemilu dan UU Cipta Kerja Paling Sering Digugat

Maksudnya?

Selama ini, saya juga ikut membangun Indonesia melalui tabligh-tabligh, melalui pesan-pesan politik, pesan-pesan sosial, di dalam lagu-lagu saya. Tetapi, itu kan tidak konkret. Saya ingin lebih konkret lagi.

Demokrat Tetap Mendesak Bahas Revisi UU Pemilu

Jadi, selama ini Anda merasa belum konkret?

Loh iya, itu kan hanya imbauan saja. Seruan kepada bangsa Indonesia untuk menjadikan Pancasila sebagai filter dari penetrasi global. Kemudian, mengajak bangsa Indonesia untuk menghormati hak azazi, mengajak bangsa Indonesia untuk memberantas korupsi. Tapi kan itu cuma lewat lagu, jadi tidak efektif. 

Demokrat Tanya Alasan Jokowi Konsen Revisi UU ITE daripada UU Pemilu

Lalu?

Bisa lebih konkret, kalau ada legislator kita di DPR, eksekutif kita di pemerintahan.

Ketua Partai Idaman, Rhoma Irama.

Apa alasan Anda mendirikan partai politik sendiri?

Itu merupakan saran dan pendapat dari teman-teman, terutama para ulama, habaib, agar saya membuat partai. Karena, mereka menilai Rhoma punya modal sosial, walaupun tidak punya modal finansial. Jadi, atas dorongan teman-teman ya bismillah.

Artinya, bukan karena kekecewaan Anda terhadap partai yang sudah mapan?

Kalau orang berasumsi seperti itu wajar. Tetapi, demi Allah tidak ada kekecewaan saya tentang politik. Jadi, saya tidak menyesali, bukan atas dasar itu membuat partai sendiri.

Bisa diceritakan sedikit proses lahirnya Partai Idaman ini?

Pertama ada yang namanya Tim Sembilan yang terdiri dari beberapa ulama, habaib, dan politisi. Mereka mendorong saya untuk bikin partai, dengan nama partai apa saja.

Lalu?

Ketika itu saya ajukan kalau kita harus membentuk Partai Islam. Artinya, Islamnya harus kita cantumkan. Label Islam itu harus kita tonjolkan, Cuma, ketika itu banyak teman-teman tidak setuju dengan berbagai macam alasan.

Kenapa Anda ingin menonjolkan identitas Islam?

Penting kita menyatakan label Islam.

Kenapa?

Untuk menghapus Islamophobia. 

Maksudnya?

Selama ini, Islam distigmanisasi dengan berbagai macam stigma negatif. Bahwa Islam itu teroris, Islam itu apluralis, Islam itu intoleran, Islam itu radikal. Padahal, Islam itu tidak demikian. Islam adalah agama Rahmatan lil alamin. Begitu juga mengenai pluralitas. Bahwa Islam sangat pluralis. Islam juga sangat toleran. 

Nah ini, yang ingin saya tunjukkan kepada Indonesia dan dunia. Ini loh Islam yang sebenarnya. Islam itu bukan teroris, bukan radikalisme, bukan apluralism, bukan intoleran. Ini yang ingin saya buktikan di Indonesia dan kepada dunia melalui Partai Idaman. Bahwa Islam adalah suatu agama yang menyeluruh, mencintai persatuan, menghormati perbedaan, dan menciptakan perdamaian dan kedamaian.

Di Indonesia kan sudah ada partai politik yang mengidentifikasikan dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung sebagai Partai Islam. Apakah partai-partai itu belum cukup representatif dalam membawa kebesaran Islam di Indonesia maupun di dunia?

Saya tidak dalam kapasitas menilai partai teman-teman lain. Tetapi, saya berinisiatif untuk melenyapkan Islamphobia. Karena, kalau Islamophobia dibiarkan, maka nonmuslim akan semakin benci pada Islam. Sementara, Islam tidak berani memunculkan identitasnya. Jadi, ini akan merugikan sekali buat Islam.

Anda dulu pernah di PPP, kenapa tidak tetap bergabung di PPP saja dan berjuang di sana?

Dulu saya bergabung di PPP, karena partai itu berazazkan Islam. Sebagai seorang muslim, saya terpanggil. Lalu, kenapa saya keluar dari PPP, karena sudah tidak lagi berazazkan Islam. Lalu, kenapa saya masuk Partai Golkar, karena saat itu Golkar membela umat Islam. Jadi itu.

Karena saya sangat yakin, Islam bisa mempersatukan bangsa. Saya yakin, Islam bisa membangun bangsa dengan konsep-konsep yang Islami. Jadi, Islam ini bisa memakmurkan bangsa, bisa mempersatukan bangsa yang heterogen. Bahkan, secara global.

Apakah Anda yakin partai Idaman bisa mewujudkan itu?

Paling tidak, kita bercita-cita untuk itu atau bahwa nilai-nilai itu sebetulnya sangat universal. Artinya, Islam itu sangat kondusif untuk mempersatukan perbedaan agama, perbedaan ras. Itu tertuang secara eksplisit di dalam Alquran, jadi bukan perkataan ulama atau perkataan Rhoma. Tetapi, Allah yang mengatakan. Kita itu tidak punya hak untuk menghakimi keimanan seseorang. Jadi, Islam itu sangat kondusif untuk perdamaian bangsa dan dunia. 

Selanjutnya, perjalanan bangsa>>>

Apakah Anda melihat bahwa perjalanan bangsa ini tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam?

Jangan Islam deh, kejauhan, dengan Pancasila saja. Pertanyaannya, apakah bangsa kita ini sudah sesuai dengan Pancasila? Apakah negara ini sudah berjalan atas dasar Ketuhanan? Apakah bangsa ini sudah berjalan dengan adil dan beradab? Apakah bangsa ini sudah berjalan di atas persatuan Indonesia? Apakah bangsa ini sudah berjalan di atas permusyawaratan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan perwakilan? Apakah bangsa ini sudah melaksanakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia? itu aja yang kita pertanyakan..

Kalau menurut Anda?

Anda jawab sendiri lah... 

Partai Idaman

Apakah Anda yakin Partai Idaman bisa bersaing dengan partai-partai politik yang sudah mapan?

Harus yakin. Kalau tidak, kita tidak punya daya juang. 

Apa yang membuat Anda yakin?

Di grasroot, kita lihat katakan lah Fans of Rhoma and Soneta (FORSA) itu ada yang struktural dan nonstruktural. Mereka-mereka ini yang secara mandiri yang membesarkan Partai Idaman. Karena saya sendiri, bukan seperti para politisi atau pemilik partai yang kaya raya, yang punya segalanya.

Selain itu?

Partai Idaman adalah partai yang organik, partai yang mandiri. Sehingga, seluruh kader di seluruh Indonesia mempunyai sense of belonging terhadap partai, sehingga dapat menimbulkan sense of responsibility untuk membesarkan partai. 

Kalau target perolehan suara atau perolehan kursi di 2019?

Sepertinya agak tidak elok, kalau kita bicara target-targetan. Yang pasti gini, kita bekerja keras, bekerja maksimal dan berdoa optimal, selebihnya serahkan kepada Allah. 

Apa saja yang sudah dipersiapkan Partai Idaman terkait Pemilu 2019?

Kita bekerja keras, all out. Seluruh potensi yang ada sama kita, dengan merangkak, dengan apa saja, dengan materi ala kadarnya, berdoa. Itu semua kita kerahkan untuk mencapai kelulusan verifikasi KPU.

Anda kan sudah sukses di dunia musik. Mengapa memilih mendirikan partai di usia tua?

Kata Nabi Muhammad SAW, sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat kepada manusia lain, kepada orang banyak. Jadi, saya ini ingin mengisi di penghujung usia saya ini, yang mungkin sudah tidak lama lagi, untuk meletakan batu pondasi perjuangan untuk citra Islam dan Indonesia paling tidak itu.

Bahwa kalau saya ingin meletakkan pondasi agama Islam untuk saudara-saudara kita, satu tujuannya adalah mengembalikan citra Islam yang sekarang terstigma negatif menjadi positif, rahmah lil alamin. Kemudian, membangun Indonesia berdaulat secara politik, secara ideologis, secara ekonomi, secara budaya. Jadi itulah yang saya ingin lakukan di penghujung sisa usia saya ini. 

Bagaimana respons teman-teman artis dengan langkah Anda ini?

Respons mereka baik. Mereka happy melihat seorang pedangdut yang konon dangdut itu musik yang “termarginalkan” oleh bangsa ini, tiba-tiba bisa membentuk partai politik. Saya sering mengatakan kepada teman-teman antara seni, dakwah, dan politik adalah satu napas yang sejak saya kecil itu tidak bisa dipisahkan.

Anda saat ini fokus berpolitik, apakah ke depan akan terus mempertahankan seni? 

Seperti yang saya katakan, bahwa untuk saya, seni, agama, dakwah, dan politik itu satu napas. Kalau Anda perhatikan, musik Rhoma dengan langkah religius Rhoma, dengan langkah politik Rhoma itu relevan, selaras. Jadi, bukannya di agama dia begini, di seninya dia bertentangan, di politiknya lain lagi. Tidak begitu. Alhamdulillah semua satu garis, jadi buat saya musik itu justru menjadi kekuatan tambahan.

Artinya, selain ngurusin partai Anda masih main musik?

Masih sering show, on air, dan off air tetap seperti biasa. 

Bagaimana Anda melihat kepemimpinan Jokowi-JK?

Mungkin belum saatnya saya berkomentar tentang kepemimpinan nasional. Tetapi, yang pasti bahwa setiap rezim di Indonesia, bahkan di dunia itu ada plus minusnya, ada kelebihan ada kekurangannya.

Anda satu-satunya artis atau seniman yang memiliki partai politik. Apakah akan merekrut artis untuk mendongkrak perolehan suara?

Di era demokrasi ini yang namanya seorang legislator, seorang eksekutif itu kan dipilih oleh rakyat. Maka dari itu, partai memilih figur-figur yang memiliki basis rakyat. Karena sistem pemilu kita ini berbasis pada pilihan rakyat. Tentunya, mereka akan merekrut orang-orang yang kuat di rakyat, di antaranya ya artis-artis itu.

Artinya Partai Idaman juga akan melakukan strategi itu?

Bukan strategi kali yaa, memang begitu seharusnya. Karena, yang berdaulat itu kan rakyat. Di era demokrasi seperti ini, satu suara seorang profesor dan satu suara tukang bakso itu sama, yaitu satu. Profesor itu satu, tukang bakso itu satu, tamatan SD itu satu suara, jadi siapa yang bisa memiliki pengikut yang besar, maka dia akan menjadi sasaran untuk direkrut oleh partai.

Kalau Partai Idaman akan lebih mengedepankan elektabilitas, atau kualitas calegnya?

Dalam sistem pengkaderan kita, tentunya kader yang akan kita tempatkan pada posisi legislator, atau eksekutif pastinya yang berkualitas. Artinya, sesuai dengan nilai-nilai yang tertuang dalam AD/ART tentu kualitas yang kita prioritaskan.

Apa yang membedakan Partai Idaman ini dengan partai-partai lain, termasuk dengan partai Islam yang ada saat ini?

Ya, karena ada Islamnya. Bedanya dengan partai Islam lain, karena mereka hanya mengatasnamakan Islam.

Apa harapan Anda?

Untuk bangsa Indonesia, kita boleh berbeda memiliki pandangan politik, budaya, dan agama. Tetapi, sebagai bangsa kita adalah satu. Jadi, utamakan ukhuwah Islamiyah, mantapkan kerukunan antarumat beragama, dan tentunya persatuan dan kesatuan. (asp)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya