Enam Alasan Harga BBM Tak Akan Naik

Ilustrasi distribusi BBM
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

VIVA – Pemerintah mengklarifikasi sejumlah rumor yang menyebutkan bahwa harga bahan bakar minyak akan dinaikkan seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

img_title Rupiah Melemah ke Rp18.156 per Dolar AS, Pasar Cermati Konflik AS-Iran hingga Inflasi Pangan Dalam Negeri

Secara umum, rumor atau hoax itu didasarkan pada desakan sejumlah pengamat atau ahli agar pemerintah menaikkan harga BBM menyusul pelemahan rupiah yang kemudian disusul kenaikan harga minyak dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kalau harga BBM tidak dinaikkan, menurut analisis beberapa pengamat itu, akan menyebabkan defisit perdagangan migas makin membesar dan memperberat tekanan pada rupiah. Sebab impor minyak Indonesia masih cukup besar, nilainya melonjak seiring melemahnya rupiah, berkontribusi signifikan pada defisit neraca berjalan.

img_title Rupiah Terancam Betah di Atas Rp18.000 hingga Akhir 2026, Dolar AS Makin Perkasa

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan, memaparkan perspektif berbeda. Neraca perdagangan migas, katanya, seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi ekspor dan impor migas, tapi juga penerimaan negara secara langsung dari lifting migas dalam denominasi dolar.

Jonan, sebagaimana diungkapkan staf khususnya Hadi M Djuraid melalui akun Twitter-nya, @HadiMDjuraid, menyatakan bahwa kalau neraca perdagangan yang dihitung hanya ekspor migas dikurangi impor migas, memang defisit perdagangan migas kelihatan besar.

img_title Kilas Balik Rupiah Melemah Sepanjang Oktober 2026, Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Hadi membandingkan ekspor dan impor migas. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik, defisit neraca perdagangan migas Semester I 2018 mencapai 5,39 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp78,84 triliun. Sementara menurut data Kementerian ESDM, pada Semester I 2018 penerimaan negara dari lifting migas mencapai 6,57 miliar dolar Amerika Serikat.

“Maka total penerimaan sektor migas mencapai 12,46 miliar dolar Amerika Serikat,” kata Hadi.

Sementara pada sisi impor minyak, produk minyak, serta LPG, sepanjang Semester I 2018 tercatat sebesar 12,74 miliar dolar Amerika Serikat. “Maka defisit neraca migas pada Semester I 2018 relatif kecil, 0,28 miliar dolar Amerika Serikat.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, Hadi menjelaskan, penerimaan negara dari migas pada Semester I 2018 sebesar 6,57 miliar dolar Amerika Serikat. Angka itu meningkat sebesar 1,89 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp28,3 triliun dibanding pendapatan migas Semester I 2017 sebesar 4,68 miliar dolar Amerika Serikat.

“Kenaikan penerimaan negara sebesar 1,89 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp28,3 triliun tersebut lebih dari cukup untuk menutup kebutuhan subsidi BBM sampai akhir 2018,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut