Apindo: Industri Minta THR 2021 Dicicil

Ketua PHRI Haryadi Sukamdani.
Sumber :
  • M Yudha P/VIVA.co.id

VIVA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan, kondisi berbagai industri di Indonesia masih tertekan. Akibatnya terkait pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) pun belum tentu bisa dibayar penuh secara langsung alias dicicil.

img_title Perkuat Industri Kimia RI, Pemerintah Bangun Pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di Gresik

Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani mengungkapkan, 33,3 persen industri yang disurvei menyatakan tidak bisa bertahan dalam rentang waktu 1 tahun jika kondisi Pandemi COVID-19 tidak ada perubahan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dan dari strategi bisnis mereka paling banyak melakukan efisiesi biaya termasuk di dalamnya merampingkan organisasi termasuk menyusutkan tenaga kerjanya," kata dia dalam diskusi virtual, Kamis, 8 April 2021.

img_title Dana Otsus Papua Dorong Percepatan Pembangunan dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

Baca juga: Penjualan Lippo Karawaci Kuartal I-2021 Capai Rp1,31 Triliun

Secara spesifik Hariyadi mengungkapkan, industri yang hingga saat ini masih mengalami tekanan adalah industri tekstil dan produk dari tekstil. Meskipun akan bisa tumbuh 1-2 persen kuartal I-2021.

img_title Menteri LH Selidiki Dugaan Karhutla Sengaja untuk Rusak Citra Pemerintah

"Ketika kami konfirmasi mereka meminta untuk pembayaran THR dicicil seperti tahun lalu, tapi mereka masih punya optimisme di kuartal II mudah-mudahan lebih baik tapi untuk THR masih kesulitan," papar Hariyadi.

Adapun untuk sektor industri otomotif dikatakannya mampu pulih lebih cepat akibat stimulus fiskal pelonggaran pengenaan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

"Untuk sektor otomotif ini menunjukkan mulai adanya peningkatan produksi yang kita harap tumbuh di semester I dan semester II ini laporan Gaikindo menunjukkan ada pertumbuhan produksi yang mereka sama sekali tadinya enggak tumbuh," tegas dia.

Dengan perbaikan di sektor otomotif ini, katanya menjadi salah satu bukti nyata bahwa stimulus pemerintah yang tepat sasaran dan efektif bisa kembali membangkitkan permintaan dan produksi.

"Ini salah satu contoh stimulus yang sangat menarik karena ketika diberikan pasarnya langsung bergerak. Ini kita harap juga untuk sektor lain seperti properti, kalau pariwisata kita memang masih tunggu pergerakan manusianya," ucapnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Khusus untuk sektor pariwisata, Hariyadi mengusulkan supaya pemerintah mulai berani untuk melonggarkan aktivitas di tempat-tempat yang memang zona hijau. Sebab, menurutnya positivity rate tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

"Kita selalu ada misleading setiap bicara positivity rate parameternya kurang tepat karena itu diambail dari jumlah kasus positif dibagi jumlah testing. Kalau long weekend pasti jumlah testing-nya sedikit jadi pasti positivity rate-nya tinggi," papar dia.

Booth Kawasaki di IMOS 2024

Bukan Cuma Orang yang Belum Punya Motor, Ini Incaran Baru Pabrikan

Pasar motor Indonesia masih punya peluang tumbuh. AISI mengandalkan dua segmen konsumen, yakni pembeli pertama dan pemilik lama yang ingin mengganti kendaraannya.

img_title
VIVA.co.id
3 November 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut