5 Fakta Hubungan Presiden Soekarno dan Uni Soviet
- Twitter Kedubes Rusia di Jakarta
Selain itu juga kedua pemimpin ini saling mengunjungi satu sama lain, diawali dengan Soekarno yang datang ke Uni Soviet pada 1956, kemudian Nikita Khrushchev datang ke Indonesia pada tahun 1960, kunjungan selama dua pekan tersebut akan tercatat dalam sejarah sebagai pertemuan pemimpin negara Adidaya.
Tujuh tahun setelah kunjungan Nikita Khrushchev, Soekarno dilengserkan dari jabatan sebagai Presiden Indonesia pertama, Soeharto yang anti komunis pun, memutus hubungan persahabatan dan diplomatik dengan Uni Soviet. Berpuluh tahun kemudian pada awal tahun 1990'an hubungan tersebut kembali pulihkan setelah rezim Komunis Uni Soviet diruntuhkan.
3. Masjid Biru Soekarno di Rusia
Masjid Biru yang kini dikenal dengan sebutan Masjid Bung Karno. Aktif kembali setelah dalam kunjungan Soekarno ke Rusia (Uni Soviet) meminta agar bangunan yang sempat dijadikan gudang itu diaktifkan kembali sebagai masjid (infografis/bungkarno.id)
- U-Report
Masjid Biru di kota Saint Petersburg terbilang cukup populer di Rusia sebagai tujuan wisata bagi masyarakat Indonesia. Sebelumnya sulit untuk membangun Masjid di sana, hingga Tsar Nicholas II penguasa pada saat itu memberikan izin, tepatnya pada tahun 1907 pembangun Masjid diberikan sebagai penghargaan atas kontribusi warga muslim yang turut membangun Kota Saint Petersburg dan ketika Masjid dibangun pada tahun 1910.
Pada waktu itu umat Islam di Saint Petersburg diperkirakan berjumlah 800 ribu orang. Kemudian ketika rezim komunis Uni Soviet berkuasa hampir semua tempat ibadah dan agama ditutup selanjutnya dialih fungsikan. Khusus Masjid Biru ditutup pada tahun 1940 dan dialih fungsikan menjadi gudang medis.
Lalu apa hubungan Masjid biru dan Soekarno? Masih ada hubungan perjalanan Soekarno ke Rusia diketahui setelah kembalinya di Indonesia, Presiden Soekarno meminta izin Nikita Khrushchev agar masjid biru difungsikan kembali sebagai tempat ibadah bagi umat muslim.
Namun tak disangka Nikita Khrushchev yang merupakan anti agama menuruti kemauan Soekarno, oleh karena itu umat Islam Rusia sangat berterima kasih kepada Soekarno, menyusul julukan Soekarno turut populer setelahnya.
4. Borong Alutsista dari Uni Soviet
VIVA Militer: Presiden Soekarno di depan pasukan Indonesia
Era kedekatan Soekarno dan Uni Soviet ditandai dengan pembelian senjata oleh pemerintah Indonesia. Tepatnya pada tahun 1960 an, pemerintah Indonesia membeli senjata secara besar-besaran khusus untuk mendukung operasi pembebasan Irian Barat atau Papua.
Namun setelah terjalani kesepakatan, Presiden Soekarno dilengserkan dan digantikan oleh Soeharto yang lebih memilih membeli senjata dari blok Barat atau yang lebih dikenal Amerika Serikat.