Potret Hari Pertama Ramadan di Gaza, 'Dingin' dan 'Sulit'
- Associated Press
Musim dingin di Gaza semakin menyoroti beratnya kondisi para pengungsi dan besarnya kebutuhan wilayah itu. Cuaca yang sangat dingin menyebabkan kematian anak-anak di Gaza, sementara hujan deras membanjiri kamp-kamp pengungsian dan merobohkan bangunan yang sudah rusak parah.
“Banyak yang berubah antara Ramadan kali ini dan Ramadan sebelum perang. Dulu suasananya jauh lebih meriah. Jalan-jalan dipenuhi lampu dan hiasan. Anak-anak kami bahagia,” kata Raed Koheel, warga Kota Gaza.
Meski begitu, di tengah segala kesulitan, sebagian warga di Jalur Gaza tetap berusaha menghadirkan sedikit nuansa Ramadan.
Di tengah puing dan bangunan yang runtuh di Khan Younis, seorang kaligrafer dan seniman bernama Hani Dahman mencelupkan kuasnya ke cat lalu menuliskan “Selamat Datang Ramadan” dalam bahasa Arab, disaksikan anak-anak yang berdiri di sekitarnya.
“Kami di kamp Khan Younis berusaha menghadirkan kebahagiaan di hati anak-anak, perempuan, laki-laki, dan seluruh keluarga. Kami ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa kami adalah orang-orang yang mencintai kehidupan,” kata Dahman.
Rangkaian hiasan Ramadan pun digantung di antara reruntuhan. Mohammed Taniri menyaksikan hiasan itu perlahan terpasang.
“Ketika ada hiasan sederhana tapi indah seperti ini, anak-anak jadi senang. Di tengah semua kesulitan, mereka tetap berusaha menciptakan suasana yang indah,” katanya.