Bela Iran soal Program Nuklir, China-Rusia Bentrok dengan AS di DK PBB

Utusan AS untuk PBB, Mike Waltz
Sumber :
  • UN

VIVA – Amerika Serikat dan sekutu Barat terlibat perdebatan tajam dengan Rusia dan China dalam sidang Dewan Keamanan PBB pada Kamis, 12 Maret 2026, terkait program nuklir Iran. Washington memanfaatkan forum tersebut untuk memperkuat pembenaran atas perang yang dilancarkannya terhadap Teheran dua pekan terakhir.

img_title Seorang WNI Jadi Tentara Rusia Tewas Bertempur di Ukraina, Kemlu: KBRI Moskow sedang Melakukan Pendalaman

Dalam pertemuan Dewan Keamanan yang beranggotakan 15 negara yang dipimpin AS, dua negara pemilik veto, yakni Rusia dan China berupaya memblokir pembahasan mengenai komite yang bertugas mengawasi dan menegakkan sanksi PBB terhadap Iran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun upaya tersebut gagal setelah ditolak melalui pemungutan suara dengan hasil 11 negara mendukung pembahasan, dua menolak, dan dua abstain. Utusan AS untuk PBB, Mike Waltz, menuduh Moskow dan Beijing mencoba melindungi Teheran dengan menghambat kerja komite sanksi yang dikenal sebagai Komite 1737.

img_title AS Kirim 10 Pesawat Militer ke Timur Tengah, Iran Bakal Digempur Lagi?

"Semua negara anggota PBB harus menerapkan embargo senjata terhadap Iran, melarang transfer dan perdagangan teknologi rudal, serta membekukan aset keuangan yang relevan," kata Waltz di hadapan Dewan Keamanan.

Ia menambahkan bahwa ketentuan PBB yang diusulkan untuk diberlakukan kembali bertujuan secara khusus untuk menghadapi ancaman dari program nuklir, rudal, serta persenjataan konvensional Iran, termasuk dukungan Teheran terhadap kelompok yang dianggap sebagai terorisme.

img_title Pernyataan soal Mao Zedong Berujung Petaka, Sejumlah Brand China Tinggalkan Mbappe

Menurut Waltz, Rusia dan China tidak menginginkan komite sanksi yang berfungsi efektif karena ingin melindungi Iran dan mempertahankan kerja sama pertahanan dengan negara tersebut.

Waltz juga merujuk laporan terbaru dari International Atomic Energy Agency (IAEA) yang menyebut Iran sebagai satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang telah memproduksi dan menyimpan uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Ia juga menuduh Teheran menolak memberikan akses kepada IAEA untuk memeriksa persediaan tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, menuding Washington dan sekutunya menyebarkan "histeria"  mengenai dugaan rencana Iran untuk memperoleh senjata nuklir. Menurutnya, tuduhan tersebut tidak pernah dikonfirmasi oleh laporan IAEA dan justru digunakan untuk membenarkan aksi militer terhadap Iran.

"Hal ini dilakukan untuk melancarkan aksi militer lain terhadap Teheran dan memicu eskalasi besar situasi di Timur Tengah dan sekitarnya," kata Nebenzya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut