Perundingan Iran‑AS Segera Digelar, Akankah Sukses?
- NDTV
Bagaimana jalannya perundingan?
Perdana Menteri Sharif diperkirakan akan membuka perundingan secara resmi dan menggelar pertemuan awal terpisah dengan masing-masing pihak.
Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar akan berperan sebagai mediator utama. Perundingan kemungkinan dilakukan secara tidak langsung, dengan delegasi AS dan Iran berada di ruangan terpisah, sementara pejabat Pakistan menyampaikan pesan di antara keduanya.
Kehadiran JD Vance dianggap penting, karena Iran menilai dia lebih terbuka untuk mengakhiri konflik dibandingkan perwakilan AS lainnya.
Apa saja yang dibahas?
Kedua pihak masih memiliki perbedaan besar.
Iran mengajukan proposal 10 poin, termasuk pengawasan atas Selat Hormuz, penarikan pasukan tempur AS dari Timur Tengah, serta penghentian operasi militer terhadap kelompok sekutunya.
Di sisi lain, AS belum secara resmi menerima proposal tersebut. Presiden Donald Trump menyebutnya bisa dijalankan, namun tetap menuntut Iran menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya, syarat yang belum disetujui Iran.
Isu lain yang menjadi perdebatan adalah Lebanon. Serangan besar Israel ke negara itu, yang menewaskan ratusan orang, memperkeruh situasi.
Araghchi memperingatkan bahwa Iran bisa keluar dari gencatan senjata jika serangan Israel terus berlanjut. Namun, Vance dan Gedung Putih menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata tidak mencakup Lebanon.
Apa tantangan dan kemungkinan hasilnya?
Para analis menilai kesepakatan final dalam waktu dekat masih sulit tercapai karena tingginya ketidakpercayaan antara kedua pihak.
Lebanon kini menjadi titik paling sensitif dalam perundingan. Iran bersikeras serangan Israel harus dihentikan, sementara posisi AS dan Israel belum sejalan.
Beberapa analis juga menilai absennya Israel dalam perundingan menjadi tantangan besar, karena negara tersebut adalah pihak utama dalam konflik.
Meski begitu, ada peluang kompromi terbatas misalnya terkait isu nuklir dan pembukaan kembali Selat Hormuz karena kedua pihak mulai menunjukkan tanda kelelahan akibat konflik berkepanjangan.
Namun, untuk mencapai perdamaian yang benar-benar stabil, dibutuhkan dukungan luas dari negara-negara Timur Tengah, anggota tetap Dewan Keamanan PBB, serta kesepakatan yang mengikat secara internasional.