Denny JA: Macron dan Prabowo, Dua Pemain Geopolitik yang Hebat
- Istimewa
Media Prancis, Opinion Internationale (28 Mei 2026), bahkan mulai menggambarkan Indonesia sebagai “Naga Asia terakhir yang bangkit” di bawah kepemimpinan Prabowo.
Julukan itu lahir dari kombinasi ukuran ekonomi Indonesia, bonus demografi, posisi geopolitik yang strategis, serta ambisi pembangunan nasional yang semakin besar.
Di luar dunia Barat, publik internasional selama ini mengenal tokoh-tokoh seperti Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Narendra Modi sebagai pemimpin yang memberi warna kuat bagi zamannya.
Kini, Indonesia mulai dipandang memiliki figur yang mampu memainkan peran serupa bagi Asia Tenggara.
“Prabowo memahami bahwa abad ke-21 bukan lagi era negara yang kuat karena kekayaan alam semata. Negara akan kuat jika mampu membangun jaringan, teknologi, investasi, ketahanan pangan, energi, dan pertahanan secara bersamaan,” ujar Denny JA.
Karena itu, menurutnya, diplomasi Prabowo bukanlah diplomasi seremonial. Ia adalah diplomasi pembangunan.
Tentu, kedua pemimpin bukan tanpa keterbatasan. Macron menghadapi krisis legitimasi domestik pasca pembubaran parlemen, sementara Prabowo masih harus membuktikan diri di hadapan tantangan fiskal program unggulannya.
Denny JA menegaskan bahwa pertemuan Macron dan Prabowo memperlihatkan satu pesan besar tentang arah sejarah dunia.
"Kita sedang memasuki zaman ketika negara-negara menengah tidak lagi sekadar menjadi penonton pertarungan para raksasa. Mereka mulai tampil sebagai pemain yang menentukan arah permainan," katanya.
Denny JA menjelaskan, Macron menunjukkan bagaimana sebuah negara dapat mempertahankan kemandirian di tengah aliansi yang kompleks. Sedangkan Prabowo menunjukkan bagaimana sebuah bangsa berkembang dapat membangun hubungan dengan semua kekuatan besar tanpa kehilangan jati dirinya.
“Di abad yang penuh ketidakpastian ini, yang akan bertahan bukanlah mereka yang paling keras suaranya. Yang akan bertahan adalah mereka yang paling mampu menjembatani dunia yang terbelah," ujarnya.
Denny JA mengatakan, sejarah sering kali berubah bukan oleh mereka yang memilih satu kubu, melainkan oleh mereka yang mampu berbicara dengan semua kubu.
"Pada akhirnya, diplomasi ini adalah tentang keberanian merajut harapan di atas retakan dunia. Ini bukan sekadar urusan kuasa, melainkan upaya memastikan suara kemanusiaan tetap bergema melampaui sekat ideologi yang memisahkan," katanya.