Israel Dihantam 'Tsunami'

Ilustrasi bendera Israel.
Sumber :
  • REUTERS/Florion Goga TPX IMAGES OF THE DAY

VIVA – Israel menghadapi gelombang emigrasi yang kian mengkhawatirkan. Ratusan ribu warga meninggalkan negara tersebut dalam tiga tahun terakhir, memunculkan peringatan bahwa Israel sedang diterjang 'tsunami' emigrasi.

img_title Laporan UNICEF: Serangan Israel Tewaskan Lebih dari 340 Anak di Gaza Sejak Gencatan Senjata

Fenomena ini menjadi sorotan karena mereka yang pergi bukan hanya warga biasa. Banyak di antaranya merupakan generasi muda, berpendidikan tinggi, profesional, serta berasal dari kelompok berpenghasilan besar yang selama ini menjadi motor perekonomian Israel.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data Biro Pusat Statistik Israel yang dikutip dalam studi Universitas Tel Aviv menunjukkan hampir 270.000 warga Israel meninggalkan negaranya dalam tiga tahun terakhir. Sekitar 86.500 orang pergi pada 2023, kemudian sekitar 91.500 orang pada 2024, dan jumlah yang kurang lebih sama pada 2025.

img_title Brutal! 3 Juta Buku Lenyap akibat Serangan Israel di Lebanon, Puluhan Perpustakaan Hancur

Gilad Kariv, anggota parlemen dari kubu oposisi sekaligus ketua Komite Imigrasi, Penyerapan, dan Urusan Diaspora, menyebut kondisi tersebut sebagai "tsunami" emigrasi. Ia menilai pemerintah Israel belum melakukan langkah yang memadai untuk menghentikan arus keluar warga.

Studi otoritas pajak Israel yang diterbitkan awal bulan ini juga menunjukkan bahwa emigrasi meningkat pada 2023 dan 2024 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Yang menjadi perhatian, warga yang meninggalkan Israel cenderung berasal dari kelompok dengan penghasilan dan tingkat pajak lebih tinggi.

img_title Kemlu RI Buka Suara Usai Israel Tolak Pesawat yang Diawaki Pilot WNI

Kehilangan generasi terbaik

Gelombang eksodus tersebut terjadi ketika pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu semakin condong ke arah politik kanan dan garis keras.

Bagi banyak warga Israel berhaluan liberal, pemerintahan Netanyahu dianggap membuat Israel semakin kurang sekuler dan melemahkan independensi lembaga negara, khususnya peradilan.

Upaya pemerintah mengurangi kewenangan pengawasan peradilan pada 2023 bahkan memicu demonstrasi besar. Puluhan ribu warga turun ke jalan karena menilai kebijakan tersebut dapat mengubah karakter Israel secara mendasar.

Situasi semakin rumit setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang yang kemudian berlangsung di Gaza serta berbagai wilayah lain di kawasan.

Bagi sebagian warga Israel, perang yang tidak kunjung berakhir dan ketidakmampuan pemerintah mencapai kemenangan yang selama ini diklaim telah menciptakan ketidakpastian. Sebagian dari mereka akhirnya memilih mencari kehidupan yang lebih aman dan stabil di luar negeri.

Survei Universitas Tel Aviv juga menunjukkan bahwa warga yang meninggalkan Israel dalam beberapa tahun terakhir cenderung memiliki pendidikan dan kondisi ekonomi lebih baik.

'Tsunami' emigrasi

Ahli demografi dan statistik Israel, Sergio DellaPergola, mengatakan Israel sebelumnya memang pernah mengalami kondisi ketika jumlah warga yang keluar lebih banyak daripada yang masuk. Namun, situasi tersebut umumnya hanya berlangsung singkat dan berkaitan dengan krisis ekonomi.

Kondisi saat ini dinilai berbeda karena arus keluar berlangsung dalam periode yang panjang. "Kali ini, belum jelas peran apa yang dimainkan oleh perekonomian," kata DellaPergola kepada Al Jazeera.

Menurutnya, sebagian warga mungkin pergi demi mengejar peluang karier. Namun, banyak pula yang meninggalkan Israel karena ketidakpastian keamanan dan kekhawatiran terhadap arah politik negara.

DellaPergola juga menilai semakin kuatnya pengaruh tokoh-tokoh yang dianggap ekstrem telah memperdalam polarisasi politik Israel. Salah satunya adalah Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir.

Meski demikian, ia menilai para tokoh tersebut tidak berdiri sendiri dalam menentukan arah politik Israel. "Jangan salah paham, mereka semua adalah pemain dalam sebuah orkestra yang dipimpin oleh Netanyahu," ujarnya.

Brain drain

Eksodus warga terdidik menjadi perhatian serius karena ekonomi Israel sangat bergantung pada inovasi, teknologi, penelitian, dan tenaga kerja berkeahlian tinggi.

Michael Ben-Gad, profesor di City St George's, University of London, mengatakan keberadaan generasi muda, terdidik, dan liberal sangat penting untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi Israel.

Kekhawatiran tersebut semakin besar karena justru kelompok yang memiliki kemampuan untuk menggerakkan sektor inovasi Israel kini menjadi bagian dari arus emigrasi.

Lilach Lev Ari, profesor imigrasi dan demografi di Oranim College, mengatakan profil emigran Israel saat ini semakin jelas. Banyak keluarga muda berpendidikan tinggi dan memiliki prestasi profesional memilih meninggalkan negara tersebut.

"Semakin banyak keluarga muda yang berpendidikan tinggi dan berprestasi meninggalkan negara itu," ujarnya. Menurut Lev Ari, keputusan tersebut berkaitan dengan reformasi peradilan, situasi sosial-politik, serta perang yang berlangsung.

Ia mengakui Israel masih memiliki banyak tenaga profesional berkualitas. Namun, peningkatan emigrasi yang telah berlangsung hampir tiga tahun tetap harus menjadi perhatian. "Kita kehilangan beberapa orang yang kompeten, tetapi kita masih memiliki orang-orang baik di sini," katanya.

Ekonom politik Shir Hever menilai migrasi massal dari Israel merupakan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar kepergian para profesional berpenghasilan tinggi.

Menurutnya, perhatian publik terlalu banyak tertuju pada dokter, peneliti, dan pekerja teknologi yang meninggalkan Israel. Padahal, kepergian perawat dan pekerja penting lainnya juga dapat memberikan dampak besar terhadap negara.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya risiko brain drain, yakni hilangnya tenaga kerja terampil yang dibutuhkan untuk mempertahankan produktivitas dan inovasi. Di sisi lain, emigrasi juga berkaitan dengan perubahan budaya. Warga Israel yang meninggalkan negaranya secara tradisional menghadapi stigma.

Pada 1970-an, Perdana Menteri Yitzhak Rabin pernah menyebut warga Israel yang pergi sebagai "sekumpulan orang lemah". Dalam istilah Ibrani, imigrasi Yahudi ke Israel disebut aliyah, yang berarti "pendakian", sementara mereka yang pergi disebut yordim, atau "mereka yang turun".

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, tekanan politik dan keamanan membuat stigma tersebut semakin diabaikan oleh sebagian warga. Bagi keluarga muda yang merasa tidak lagi mendapatkan kepastian mengenai masa depan, meninggalkan Israel kini dipandang sebagai pilihan untuk mencari kehidupan yang lebih stabil.

Jika tren ini terus berlanjut, persoalan yang dihadapi Israel bukan hanya kehilangan jumlah penduduk. Negara tersebut juga berisiko kehilangan sebagian tenaga muda, terdidik, dan profesional yang selama ini menjadi salah satu fondasi kekuatan ekonominya.

Ilustrasi Pesawat Boeing 777X

Ancaman Bom, Pesawat dari Tel Aviv ke Wina Mendarat Darurat di Bulgaria

Pesawaat Austrian Airlines dengan nomor penerbangan OS82 tujuan Tel Aviv, Israel menuju Wina Austria harus melakukan pendaratan darurat di Bulgaria usai ancaman bom

img_title
VIVA.co.id
19 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut